19/01/2026
Menurut Richard Dawkins, kebaikan tidak memberi keuntungan apa pun bagi sebuah individu; fungsinya tampak bertentangan dengan hukum alam dan kepentingan bertahan hidup.
Kebaikan hanya bernilai sebagai toleransi sosial yang pada akhirnya kembali pada kepentingan diri: agar tidak dimusuhi individu lain, menjaga posisi dalam kelompok, atau sekadar menarik perhatian lawan jenis. Dalam kerangka ini, perilaku altruistik bukanlah tindakan luhur yang lahir dari kesadaran moral, melainkan strategi biologis yang terselubung. Individu yang terlihat “baik” berpeluang lebih besar diterima oleh lingkungan sosialnya, sehingga peluang bertahan hidup dan reproduksinya ikut meningkat.
Dawkins memandang manusia sebagai kendaraan gen, bukan agen moral yang otonom. Maka, apa yang kita sebut kebaikan hanyalah ekspresi dari gen egois yang berusaha memastikan kelangsungannya sendiri melalui mekanisme kerja sama semu. Bahkan pengorbanan ekstrem sekalipun, seperti menolong orang lain dengan risiko besar, masih bisa dijelaskan sebagai efek samping dari seleksi alam yang bekerja pada tingkat kelompok atau kekerabatan.
Namun, pandangan ini menimbulkan pertanyaan mendasar: jika kebaikan selalu direduksi menjadi kepentingan biologis, di mana ruang bagi etika, tanggung jawab, dan kebebasan manusia? Apakah manusia sepenuhnya terikat oleh naluri genetik, atau justru mampu melampaui dorongan tersebut melalui refleksi, kesadaran, dan pilihan sadar? Di titik inilah perdebatan antara determinisme biologis dan kebebasan moral manusia menjadi relevan—sebuah perdebatan yang belum menemukan jawaban final, tetapi terus menantang cara kita memahami makna kebaikan itu sendiri.