PENGASUH ANAK NEGERI

PENGASUH ANAK NEGERI Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from PENGASUH ANAK NEGERI, Garut.

25/03/2026

Hail Santaan Lebaran

Pada lebaran yang sedia Jum'at jadinya hari Sabtu kemarin itu, saya malah terkapar menjadi pesakitan. Diaré lantas disebut sebagai vonisnya. Sambal terasi extreme pedas, beleum asin dan kulub écéng di malam takbiran ditengarai jadi pemicu awalnya. Sampai kemudian tuduhan lebih banyak dituding pada acar Semar mesem, red hot Chili paru, dan gulai Satan kental iga sapi di hari lebaran sep**ang sholat sunat, tepat setelah mulai bosan saling bertukar maaf.

Jelas gerombolan makanan itu memang tak sepenuhnya tepat untuk dipersalahkan. Tapi kengerian pada jarum infus dan kelelahan setelah berak melampau 30 kali putaran membuat saya teramat ogah menyalahkan diri sendiri.

Begitulah, di usia 45 tahun, di hari yang agung nan suci, akhirnya saya memilih ikhlas berserah diri merelakan tangan untuk pertama kalinya ditusuk-berogoli infus.
Untungnya ada keluarga yang merawat dengan beragam ketengilanya. Untungnya ada vocalist yang bersedia diajak garap lagu. Untung saja ada
yang cengengesan menengok.

Dua hari jadi tahanan rumah, akhirnya hari ini bisa lepas bebas kembali ke kota guna mendengar lebih jelas aneka kebijakan kolokan aki-aki di atas sana.

15/03/2026

"Teruslah melawan, menentang semua yang membutakan mata hati. Sebelah matamu, biar mengilhami kita. Kau benteng terakhir kita. Kau lah yang tersisa" - Benteng Terakhir - X

14/03/2026

Jum'at, 13 Maret kemarin band para bocil mendapat kesempatan untuk tampil di dua acara di hari yang sama. Pertama, pada jam 15.40 mereka menjadi band pembuka gerbang acara NgabubuLive Fest yang digagas-prakarsai oleh .pedia_fest x .official . Lalu pada pukul 17.20 mereka turut meramaikan acara Musik Senja yang dihelat oleh Paramuda mahasiswa FISIP UNSAP.

Sebagai teman tak sebaya mereka, saya, & tentu saja jadi para tua yang sangat khawatir dengan kesiap-sigapan mereka untuk pentas. Keputusan kami untuk lebih ingin mereka memainkan karya sendiri (alih-alih mengcover lagu orang lain) tentu menjadi salah satu pemicunya. Mengingat betapa tidak mudahnya membangun kepercayaan pada karya sendiri, apalagi memperdengarkannya pada audiens yang tentu sangat asing dengan karya-karya itu. Selain itu, secara fisik dan waktu persiapan mereka juga rasanya terlampau kureng. Dari tempat latihan di sekolah tak bisa dipakai karena berpotensi mengganggu kegiatan Gladi TKA, hingga 1 hari menjelang acara vocalist mereka mendadak terserang batuk yang mengakibatkan suaranya nyaris hilang.
Tapi itulah anak-anak generasi hari ini. Mereka tak terbiasa dengan pikiran-pikiran jauh, ribet nan berat seperti kita. Bagi mereka tampil ya tampil saja.

Lalu begitulah hasilnya. Mereka tampil tanpa sungkan dengan 3 karya cipta sendiri ditambah 1 lagu cover. Aku sempat geleng-geleng kepala saat mereka dengan santai menggeber lagu Antipati Korupsi sebagai lagu pembuka. Lagu sarkas tentang para tua yang terlilit budaya korup ini rasanya jadi teramat religius di tengah kekurang berpihakan negara pada orang-orang yang giat melawan budaya Basi korupsi belakangan ini.

Sesaat, saya merasa musik mereka menjadi kasar dan begitu menghardik.
Tak urung saya bertepuk tangan jadinya.

Hail tidak dejavukah kalian?🤩

~Pulang~ ke GarutNyaris satu bulan tak p**ang ke Garut. 'Pulang' ya, setelah berbulan pindah ke Sumedang, aku nampak mas...
14/09/2025

~Pulang~ ke Garut

Nyaris satu bulan tak p**ang ke Garut. 'Pulang' ya, setelah berbulan pindah ke Sumedang, aku nampak masih belum lah mampu melepas kata itu sebagai dalih mengunjungi, mendatangi, atau menyantroni.

Selain karena Aleka yang masih kerasan di sana, tak dinyana berkali-kali sudah aku merasa masih memiliki pertalian dengan giat geliat sebagian kecil para mudanya.

Seperti Sabtu pagi, kemarin. Sebelum terlanjur mandi, aku ingat diajak untuk turut hadir di acara nya yang diberi tajuk Pesta Literasi yang terasa begitu gemerlap dan teramat gen Z itu. Ya, walaupun sponsornya tak gen Z-gen Z amat. Pasti bukan kebetulan, jika salah satu narasumber nya ternyata si kawan spersekongkolan dalam bidang perkukulutusan, bersanding dengan 2 penulis kawakan yang juga diimbuhi moderator postmo .astrophysicist yang prestisius nan tengil itu.

Bertempat di kafe Kopi Jaya Tarogong, hajat para literat ini berhasil menghimpun animo para muda mayoritas. Para muda penulis buku, para muda pembaca buku, para muda cerdik cendikia, para muda yang piawai berjejaring. Pun para pensiunan muda seperti aku. Si penulis buku gagal, pembaca buku kadang-kadang, si penulis lirik amateur sekenanya yang mempertegas kemunculanya sebagai minoritas nyaris tanpa kelas.

Duduk di barisan belakang, aku nyaris terperengah, saat membaca tema diskusinya. "Merdeka di Tanah Sendiri". Wow, jargon sangar seperti ini mengingatkan ku pada gelora para milenial awal, kala bersitegang pemikiran dengan para babybommer.

Lalu laju diskusi pun bergulir seperti selayaknya diskusi yang banyak difahamkan orang-orang. Moderator, Narsum, dan para hadirin begitu kompak saling menimpali pembicaraan tanpa sengketa pikiran. Sesekali riuh suara penanda kecucukan saling bersahutan kala para Narsum menyentil isu-isu kolokan hari ini, ditimpali kilatan blitz kamera gawai.

Sambil mengunyah konsumsi, aku menekuri beberapa ruah pernyataan:
Tentang horor stigma "Minoritas" yang saat ini bisa tersemat pada siapapun. Tentang dawuh "merdeka yang bertanggung jawab", yang bagiku kerap bernada melow semacam bait "manis di bibir, memutar kata.."

Saya tak tau persis, apakah tahun ini akan pantas disebut sebagai waktu permulaan untuk saya melangkah sebagai persona b...
09/01/2025

Saya tak tau persis, apakah tahun ini akan pantas disebut sebagai waktu permulaan untuk saya melangkah sebagai persona baru. Atau akan menjadi seperti biasa saja adanya. Sekedar pengulangan kembali keengganan untuk mencoba merubah haluan dari segala kebosanan laku dan fikir di tempat sebelumnya.

Yang pasti saya di Sumedang kini. Walau belum akrab, tapi saya pun juga rasanya belumlah merasa asing di sini.
Di tempat yang tak bisa disebut baru ini ada rumah yang tak menuntut waktu datang dan p**ang. Tak juga berhitung apalagi berhutang dengan jasa dan sumbangsih. Itu hal jelas lainya yang ada saya miliki serta memiliki saya di sini. Saya pun secara sah bekerja di mulai hari itu. Hari-hari yang masih segar dinamai awal tahun ini.

Saya nyaris tak sempat memikirkan hal-hal penting apapun. Sebelum kemudian tanpa hujan saya bertemu orang-orang, lalu terlibat obrolan berencana. Ya, rencana yang kali ini amat terasa alang ujur nya.
Di Sumedang yang riuhnya kota ini, saya tersangkut dengan beberapa siasat untuk pengembangan seni budaya yang tak melepas unsur pendidikan dalam perwujudannya.

Beberapa nama yang turut duduk melingkar dalam rancang bangun niat ini sepertinya cukup menjanjikan kepastian. Terutama bagi saya yang lebih sering dianggap angin-anginan dan kerap bikin teman masuk angin.

Sebutlah pa Adi seorang ASN kejaksaan sekaligus founder .official yang memiliki perhatian lebih terhadap dunia seni-senian. seniman multi talenta dan serbaguna di berbagai lintas generasi dan genre. musisi kahot yang selalu adaptif dengan laju kembang permusikan. .sae aktivis dan jihadis literasi yang memeliki kemampuan memecah diri (seperti Naruto) dalam berbagai aktivisme. Obrolan rencana ini semakin kukuh dengan keterlibatan pa seorang seniman, budayawan yang menggaungkan kepiawaiannya dari dalam bangunan kokoh Disdik Sumedang.

Selepas pertemuan pertama, saya rasanya masih samar melihat guna keberadaan. Tapi rasa senang karena kemunculan terindikasi menemukan jalannya, telah cukup mengalahkan kekalutan yang khas saya banget itu.

Bismilah dulu aja kali ya.

*Arah Hadap Seniman Dalam Laku Politik Kekuasaan* (Intro)Dari masa ke masa, keberadaan seniman acap kali menjadi tengara...
25/10/2024

*Arah Hadap Seniman Dalam Laku Politik Kekuasaan*

(Intro)
Dari masa ke masa, keberadaan seniman acap kali menjadi tengara dari laku kembang peradaban serta ragam rupa rumit cengkram kekuasaan.
Karya-karya seniman kerap p**a menjadi rekam jejak yang sering dijadikan pijakan analisis terhadap sejarah sosio-politik yang menghegemoni watak masarakat. Jelas ada keberkaitan yang tak terelakan antara seniman dan kekuasaan.

Jika berkaca pada tataran ini, maka seniman adalah individu merdeka yang memiliki kekuasaan (otoritas) atas pribadinya. Itu sebabnya seniman-seniman yang berperibadi cenderung terpental menempatkan diri di luar lingkar peluk penguasa-pemerintah.

(Bait Eksistensial)
Sebagai bagian penting yang menandai jaman, seniman sebenarnya kerap terjebak dalam paradoks pusaran kekuasaan. Ketajaman intuisi dan nalar kritis seorang seniman pada satu sisi mampu menjadikan dirinya menelisik lebih awas riak-riak kekacrutan prilaku penguasa sedari dini. Sementara di sisi lainnya sensitivitas perasaan dan keluas-luwesan imajinasi seniman kerap termanip**asi oleh citra kekuasaan yang dengan kelengkapan kekuatanya akan mampu meng glorifikasi keberpihakan.

Dari dualisme yang kerap bersinggungan itu maka munculah kemudian bias peran seniman terhadap kekuasaan. Apakah seniman akan mengambil peran untuk menjadi kongsi atau oposisi penguasa? Atau memilih menenggelamkan diri dalam semedi apatisme.

Tapi tukilan sejarah kemudian mencatat bahwa seniman nyatanya lebih sering jadi golongan yang gampang dilupakan, dipinggirkan bahkan dibuang begitu saja ketika kekuasaan mencapai tampuknya. Tak jarang otoritas seniman kemudian malah dianggap ancaman. Pun yang berkongsi, pada akhirnya sering hanya dianggap sebagai dagelan pemanis, penjaga citra penguasa saja.

(Refrain Arah Hadap)
Sesuai marwahnya seniman semestinya memang memiliki otoritas nya sendiri. Otoritas pada tubuh, alam fikir, alam ide, dan kehidupannya sendiri. Seniman sejati tak akan bertekuk begitu saja pada janji-janji doktrinal. Tak begitu saja manut pada mantra iming-iming relasi kekuasaan.

Sebagai pribadi cupu dalam lingkup sosial, saya acap menyadari dengan sepenuh hati dan se-uprit logika, bahwasanya memba...
26/09/2024

Sebagai pribadi cupu dalam lingkup sosial, saya acap menyadari dengan sepenuh hati dan se-uprit logika, bahwasanya membangun ruang pergaulan bukanlah kelihaian optimal saya.

Secara kemunculan pun, saya masih lekat dengan sudut-sudut sepi. Dengan pojok-pojok senyap. 'Penyendiri' sepertinya masih menjadi corak paling tipikal untuk menengarai keberadaan saya.

Dari lingkar pertemanan yang saya kagumi, berulang keterasingan lebih mudah tersemat. Ya, saya lebih tumbuh sendiri, walau tentu saja tak cukup bukti kalau lantas diartikan mandiri.

Berhari-hari kini, beberapa ide menggiring saya untuk berbaur, ikut menjadi campur dari pergerakan tangan-tangan. Turut menjadi sulur dari ragam pergolakan isi kepala-kepala.
baceprot adalah wujud kesekian dari upaya untuk mandiri yang jelas salah kalau lantas dimaknai upaya 'sendiri'.

Saya tengah makan sendiri. Tapi yang saya makan itu sebenar-benarnya buah pikir-tangan para mandiri.

Saya tak ragu untuk meminjam pakai kata 'kesayangan' yang sering diutarakan untuk menyebut .baceprot

Ya, tumbuh dan maju lah kau, RRB!

"Yang kritis mau dibikin apatis. Yang lantang mau dikekang dibungkam. Dilempar pada busuk masa lalu yang timpang.." Kent...
21/08/2024

"Yang kritis mau dibikin apatis. Yang lantang mau dikekang dibungkam. Dilempar pada busuk masa lalu yang timpang.."

Kentut Merdeka, Merdeka Itu Kentut ~ & Uing

Address

Garut

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when PENGASUH ANAK NEGERI posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share