15/01/2019
SANDINOMICS VS PIDATO PRABOWO
Semalam tadi, Prabowo menyampaikan visi-misi nya dalam pidato kebangsaan yang berlangsung di JCC. Acara ini diliput oleh banyak stasiun tv nasional, dan dari Timses mereka sendiri, acara ini dibuat live streaming lewat kanal-kanal internet. Dalam pidato kebangsaan tersebut, Prabowo mengumbar ucapan-ucapan klise yang biasa diulang-ulang oleh politisi ambisius: rakyat sengsara, lapangan kerja susah, harga-harga mahal, ekonomi kurang nasionalistik, dan lalaland.. netizen riuh menyambut 'pidato kebangsaan' yang tidak mengerti masalah bangsa itu: pidato kok hoaks?
Kami tidak menemukan hoaks dalam pidato Prabowo. Dia tidak berbohong, melainkan lebih dari pada berbohong. Berbohong itu diniatkan, sementara apa yang diucapkan Prabowo bukan berasal dari niat tetapi memang begitulah dirinya yang menenggelamkan akal pikirannya dalam delusi tak bertepi. Prabowo bicara soal sosialisme dalam pemerataan ekonomi? Dirinya sendiri tak mencerminkan sikap sosialistik, ia adalah salah satu konglongmerat mahakaya di negeri ini. Kudanya saja miliaran, apalagi aset bergerak dan lahan perkebunannya? Wah jangan ditanya. Bisa termangu-termangu meratapi nasib nanti.
Bicara konsep sosialistik yang diangkat dalam gagasan ekonomi Prabowo rupanya ini bertentangan dengan ide-ide ekonomi sang cawapresnya, Sandiaga Uno.
'Sandinomics' kita menyebutnya. Lewat 'Sandinomics', Sandiaga berseloroh mampu memperbaiki ekonomi negara dalam jangka waktu 3 tahun. Dalam suasana kampanye, gagasan ini biasa ditemui. Tetapi Sandiaga membandingkan jangka waktu 3 tahun versi dirinya dengan jangka waktu 7 tahun Nabi Yusuf dalamperbaikan ekonomi. Seorang nabi suci yang sejatinya dibimbing langsung oleh Tuhan Yang Mahakuasa, Tuhan Mahapenentu, sementara Sandiaga hendak membanding-bandingkan dirinya lebih hebat daripada nabi???
Pemikiran Prabowo, sebagaimana dalam bukunya "Membangun Kembali Indonesia Raya" dan "Paradox Indonesia", menunjukkan pandangan ekonomi nasional-sosialistik yang sangat kuat, dimana Indonesia harus berdikari dalam mengelola ekonomi.
Prabowo mengkritik dan membenci ketimpangan sosial yang disebabkan oleh ketimpangan penguasaan aset-aset produktif negara, baik oleh asing maupun konglomerat lokal. Pandangan ekstrim ini mirip-mirip pandangan Donald Trump di Amerika, atau bahkan pandangan dinasti Kim Korea Utara yang cenderung mendorong ekonomi tertutup. Jika pandangan Prabowo berkompromi dengan Sandinomics, maka akan muncul jalan tengah yang di mana hak kepemilikan, pasar bersahabat dan kebijakan sosial berjalan bersamaan, atau yang disebut pembangunan inklusif. Ini merupakan hal yang umum ditemui di negara-negara berkembang. Tidak ada yang baru dan menawan dalam konsep tersebut.
Namun jika pandangan sosialistik Prabowo tetap dominan, maka Sandinomics kehilangan akan maknanya. Pertanyaan penting dari kami soal konfigurasi ekonomi yang umum ditemui di banyak negara: apakah konsep ini nantinya hanya melibatkan kroni-kroni sejawat dalam pencapaiannya? Ini penting mengingat mereka berdua adalah pebisnis besar, dari golongan taipan. Tentu saja pertimbangan untung rugi atas dasar hitungan profit belaka, bukan atas dasar kepentingan khalayak umum, yang menjadi fokus utama dalam pemikiran mereka. Lah tambang Tumpang Pitu di Jawa Timur yang bermasalah dengan ekologis dan kehidupan warga di sekitarnya dengan nyata perusahaan Sandiaga turut ambil bagian kok. (https://indonesiana.tempo.co/read/122072/2018/01/29/firdaus_c/antara-budi-pego-sandiaga-uno-dan-hancurnya-tumpang-pitu) Bagaimana mau mikir kemashalatan umum? Dari contoh kecil yang terkuak, jelas bagaimana Sandiaga tidak 'bersih' berinvestasi. Lalu bagaimana dengan Panama Paper yang sangat kental 'melarikan uang keluar negeri' dan usaha-usaha gelap Sandiaga lain yang tak terdeteksi?
Bila kita telaah Sandinomics memiliki konsep kesejahteraan ditanggung negara. Upah tinggi harga rendah. Ini tampak luar biasa. Bagaimana mungkin menerapkan harga murah dengan upah tinggi sementara para usahawan tidak mau merugi? Untuk mengatasi defisit laba perusahaan-perusahaan privat, negara mensubsidi barang-barang pokok yang menjadi kebutuhan masyarakat. Di titik ini, akal sehat kita menanyakan kembali: bagaimana kalau anggaran negara tidak mencukupi untuk subsidi segala keperluan pokok rakyat Indonesia yang sejumlah 250 juta itu?
Apakah itu akan dipenuhi lewat hutang yang semakin lama semakin menumpuk ala zaman Orde Baru atau bagaimana?
Sandinomics juga memfokuskan pada penciptaan lapangan kerja lewat wirausaha yang dijalankan masyarakat. Contohnya Oke Oce. Tetapi kita tahu Oke Oce tidak berjalan baik. Waralaba besutan Sandi ini merugi. Di youtube, Sandiaga menyampaikan permohonan maaf atas ketidakberesan Oke Oce yang digadang-gadang memperbaiki kesejahteraan, menciptakan lapangan kerja, dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan. Program perumahan DP 0% yang dikampanyekan sebagai solusi atas perumahan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) ternyata tidak sesuai harapan masyarakat. Apakah Sandinomics = Hoaxnomics?
Sandiaga Uno yang berlatarbelakang pengusaha kelas berat (taipan) pastilah memercayai bahwa 'good capitalism' (kapitalisme baik) adalah sumber-sumber kesejaterahaan rakyat. Mana ada kapitalisme yang baik sekarang ini? Secara keseluruhan, kapitalisme sangat bertentangan dengan asas sosialistik Prabowo, terlebih lagi Pancasila yang memandang kesejahteraan ekonomi adalah hak sosial rakyat Indonesia, bukan bagian dari pasar bebas sarat riba kemaruk untung khas kapitalisme. Para kapitalis, biar bagaimanapun, memandang kesejahteraan rakyat hanya baik dalam dukungan filantropi (dana-dana amal). Sandiaga Uno ternyata gagal dalam memahami kesejahteraan rakyat Indonesia seperti apa. Apakah dengan mempertebal ukuran tempe yang anda bilang setipis ATM?
Ingatlah baik-baik bro Sandi, posisi rakyat dalam perekonomian Indonesia adalah sentral substansial (inti perekonomian), posisi kaum pemodal (the market forces) adalah menjadi penyangga kewajiban ekonomi yang sangat bersahabat kepada rakyat dan negara, bukan kepada pemodal.