Keris banyak memilki kegunaan dilihat dari nilai estetika pamornya, Pada masa Budha keris hanya memiliki satu warna hitam (keleng), hingga perkembangan teknik tempa dalam seni perkerisan sampai pada masa Hindhu banyak mengalami perkembangan sehingga memunculkan fenomena-fenomena bentuk pamor dan bentuk fisik hingga pada masa sekarang. Antara lain adalah bentuk keris Tinatah Lung Kamarogan, yang ma
na dalam bilah keris itu di ukir berbagai macam-macam binatang dalam mitologi jawa, selain itu juga terdapat beberapa aksen atau penghias emas atau kamarogan. Keris merupakan karya seni bernilai estetika tinggi, karena pembuatan karya seni keris ini menggunakan teknik tempa yang cukup rumit. Kerumitan ini berada pada bentuk pamor yang indah, tidak dapat dibaca secara nalar manusia terdahulu. Sehingga ada yang beranggapan bahwa pembuatan keris ada campur tangan dari dewa, makhluk gaib dan lain sebagainya, oleh karena itu keris masi di anggap sesuatu yang memiliki nilai mistis sehingga keris sering kali dikramatkan. Wujud dari perkembangan masyarakat, dapat diamati dari pola pemikiran masyarakatnya, secara garis besar perkembangan masyarakat digolongkan dalam 4 tingkatan yaitu masyarakat terasing dan primitive, masyarakat tradisional, masyarakat peralihan dan masyarakat modern. Pada abad ke-21 orang Jawa mengalami kemajuan menjadi masyarakat modern. Sikap cara berfikir mulai mengarah ke modernisasi, sehingga dengan perkembangan zaman, senjata ini berubah menjadi sebuah karya seni yang mempunyai banyak makna secara pengungkapan falsafah, penjabaran simbol dan harapan, dengan kata lain sebilah keris merupakan manifestasi dari doa dan harapan dari sipencipta maupun sipemakainya. Pembuatan keris dengan banyaknya aturan atau pakem menyebabkan keris menjadi sesuatu benda yang sulit untuk dibuat oleh sembarang orang serta menjadi sesuatu yang masi dianggap mistis sehingga masi sedikit yang membahas keris dari sisi desainnya, namun dengan kemajuan zaman muncul bentuk keris dengan “Kamardikan”. Bentuk keris ini dibuat dengan tidak mengikuti pakem yang sudah baku, sehingga sang empu bebas untuk berekspresi dalam bentuk kerisnya, sampai dengan aksen atau hiasan (kamarogan) yang terdapat pada bilah keris. Kamarogan atau hiasan pada keris kamardikan merupakan wadah ekspresi diri untuk menampilkan ide secara visual, berupa simbol- simbol yang memiliki makna sebagai representasi atau wujud dari makna yang ingin di sampaikan oleh sipembuat keris(empu). Simbol dalam sebuah karya seni merupakan komponen utama dalam kebudayaan. Ekspresi merupakan sebuah simbol yang memiliki banyak makna antara lain berupa gagasan, abstraksi, pendirian, pertimbangan, hasrat,