15/09/2014
Bocah ingusan itu bernama Ferdinal alfred sinaga
Suatu ketika pada satu sesi
training Chelsea seorang
raja asal Italia bernama Zola
melakukan tekel teramat
keras. Keadaan baik-baik
saja sampai ada seorang
bocah ingusan bernama
John Terry datang
menghampiri dan
membentak Zola. “Hei, itu
keterlaluan, apa yang kamu
lakukan? Mau mematahkan
kakinya?” teriak Terry kepada
Zola.
Seluruh anggota tim terlihat
kaget dengan apa yang Terry
lakukan. Jody Morris teman
‘nakal’ seperjuangan John
Terry sampai harus
berkomentar “bagaimana
bisa seorang pemain
ingusan seperti Terry bisa
memarahi Zola didepan satu
anggota tim, tidak pernah
ada orang yang berani
melakukan itu terhadap
Zola, bahkan seorang
Marcell Desailly pun tidak
akan pernah melakukannya”
ucap Jody Morris. Sebuah
kejadian legendaris dalam
sesi training Chelsea yang
akhirnya harus terjadi.
Gianfranco Zola di London
julukannya adalah “King”
alias raja. Dia merupakan
salah satu legiun asing
tersukses dan disegani di
seantero Inggris raya. Jika
anda mencari 10 pemain
asing tersukses di Liga
Inggris sepanjang masa di
mesin pencari google, Zola
sudah pasti ada di list
teratas, tidak mungkin tidak.
Segala atribusi itu tidak
berlaku bagi John Terry.
Reaksinya terhadap tekel
Zola merupakan salah satu
bentuk perlawanan dan jiwa
kepemimpiman yang
ternyata benih-benihnya
sudah ada sejak dia kecil,
Terry merasa tidak ada yang
salah dengan itu.
Hingga akhirnya seorang
raja bernomor punggung 25
itu harus pensiun dari
Chelsea untuk kembali ke
Italia. Saat sesi wawancara
menjelang Zola pulang
kampung, jurnalis bertanya
“apa pesan untuk Chelsea
sebelum anda pergi?” Zola
dengan tegas menjawab
“Chelsea harus mulai
memperhatikan potensi John
Terry. Dia akan tumbuh
menjadi pemain besar jika
diberikan kesempatan”.
Sebuah pesan dari sang
legenda yang ternyata
terbukti kebenarannya. Terry
bukan saja tumbuh menjadi
pemain besar lagi, tetapi dia
yang menyandang ban
kapten Chelsea hingga kini.
Memenangkan Liga Inggris
setelah 50 tahun tidak
pernah juara, memenangkan
Liga Champions untuk
pertama kalinya, lalu
menjadi kapten tim nasional
Inggris. Bocah ingusan yang
membentak Zola pada sesi
latihan itu kini benar-benar
menjadi pemain besar.
Ucapan Zola adalah doa?
Entahlah…
Berpindah ke bagian bumi
yang lain, Hari itu di stadion
Siliwangi Bandung tahun
2007. Skuad Persib asuhan
seorang Moldova bernama
Arcan Iiurie melakukan
ujicoba melawan juniornya.
Prototype pemain junior
Bandung selalu sama ketika
melawan tim senior dari
tahun ke tahun. Bermain
sopan, tidak boleh kasar,
takut melakukan tekel,
bangga bisa satu lapangan
dengan para senior sambil
sesekali berkhayal suatu
saat mereka bisa di posisi
para senior yaitu
menggunakan jersey Persib
senior. Sama halnya dengan
para pemain senior. Merasa
sebagai pemain senior,
mereka seperti haram untuk
kalah. Gengsi dan marah
ketika ditekel.
Terlalu menghargai senior
dan someah. Ini yang lazim
terjadi jika tim junior Persib
sedang berhadapan dengan
seniornya. Sikap bangga
akan tim ini mengalahkan
rasa bahwa sebetulnya
selama 90’ menit dilapangan
apapun yang terjadi
lawanmu adalah lawanmu
yang harus dikalahkan.
Sampai pada satu kejadian
dimana ada bocah kecil,
botak, berlari sangat cepat
dan bermain ngotot.
Kemudian diketahui anak itu
bernama Ferdinand Alfred
Sinaga. Ferdinand hari itu
bermain sangat merepotkan
Patricio Jimenez, seorang
libero paling stylish yang
pernah ada di Persib asal
Chile.
Pato Jimenez ditekuk,
digocek, diajak sprint, dan
yang paling membuat malu
adalah Jimenez “dikolongin”
alias di nutmeg oleh
Ferdinand. Hal yang
membuat bobotoh tertawa
melihat kejadian itu.
Jimenez tidak terima
diperlakukan seperti itu
hingga pada satu
kesempatan ketika Ferdinand
sedang menguasai bola,
Pato berlari lalu menghajar
tulang kering Ferdinand.
Bukannya jatuh dan
kesakitan, Ferdinand malah
bangkit dan berdiri untuk
membentak Jimenez, Pato
yang merasa lebih senior
membentak balik. Unik,
Ferdinand tidak mundur
sedikitpun malah maju
untuk melawan. Hal paling
rock n roll yang pernah saya
lihat untuk ukuran bocah
berumur 19 tahun.
Keributan sekitar 10 menit
yang harus dipisahkan oleh
kedua belah tim. Partai
dilanjutkan, bukannya
menghindar, Ferdinand
malah “menantang” Jimenez
untuk kembali berduel.
Alhasil keributan – keributan
kecil terjadi lagi hingga
akhirnya Ferdinand harus
ditarik keluar untuk diganti.
Bobotoh yang hadir di
Siliwangi saat itu sontak
meneriaki Ferdinand.
Beberapa ada yang
melempar dengan botol air
mineral. Pemandangan yang
jarang terjadi untuk sebuah
partai persahabatan.
Ferdinand yang masih emosi
keluar dengan hujatan dan
makian dari bobotoh.
Hingga akhirnya Arcan Iiurie
harus keluar dari bench
untuk menghampiri
Ferdinand. Mulanya Arcan
menyalami Ferdinand, untuk
kemudian ia memeluk
Ferdinand agak lama dan
menepuk pundaknya. Di
akhir pertandingan, pelatih
beruban itu menjelaskan
alasan kenapa dia memeluk
Ferdinand. “Dia pemain
bagus. Percayalah dia akan
menjadi pemain besar” ucap
Arcan Iiurie.
Waktu berlalu, tujuh tahun
kemudian anak ingusan yang
mengolong-ngolongi Pato
Jimenez itu tumbuh menjadi
penyerang asli produk
Bandung yang paling
produktif. Siapa pemain
Bandung yang selama tiga
musim terakhir rasio golnya
selalu diatas 10 gol per
musim di liga level top
flight? tidak ada. Hanya
Ferdinand yang mampu
melakukannya. 10 gol di
Persiwa Wamena musim
2010/2011 termasuk golnya
ke gawang Cecep Supriatna
di Si Jalak Harupat, Topskor
IPL mengalahkan duetnya
Edward Wilson Junior di
Semen Padang dengan 16
gol musim 2011/2012,
kemudian memproduksi 10
gol lagi bersama Persisam
Samarinda di musim
berikutnya. Produktif dan
Stabil.
Waktu pengembaraannya
sudah selesai seiring dengan
panggilan pulang yang
dilakukan oleh gurunya
Djadjang Nurjaman. Djanur
dan Ferdinand sebelumnya
pernah berkolaborasi
mempersembahkan emas
untuk Kota Bandung pada
Porda Karawang tahun 2006
dan menjuarai ISL U21
tahun 2009 bersama Pelita
Jaya junior. Lebih dari itu,
Ferdinand kecil sering tidur
di rumahnya Djanur. Djanur
sudah bukan lagi pelatih di
mata Ferdinand melainkan
seperti orang tuanya sendiri.
Waktu untuk mematangkan
di Batang, Magelang,
Wamena, Padang dan
Samarinda dirasa sudah
cukup. Ferdinand akhirnya
pulang kerumahnya, Persib
Bandung. Djanur dan
Ferdinand kali ini mencoba
mengulang chemistry
kesuksesan mereka
sebelumnya di tanah yang
sudah berjasa membesarkan
karir mereka.
Bangga rasanya melihat
Ferdinand memimpin tim ini
di Inter Island Cup bersama
Atep dan Tantan di lini
serang. Tiga pituin yang
menghabiskan masa kecil
sepakbolanya di Bandung
sekarang mimpinya
terwujud, bermain untuk
jersey biru Persib.
Saya lalu teringat omongan
Arcan Iiurie di Siliwangi
tujuh tahun lalu.
Omomngan Arcan adalah
doa? Entahlah…
Selalu ada sisi menarik dari
seorang badboy semodel
John Terry dan Ferdinand.
Mereka berdua adalah
contoh badboy yang sukses.
Bandel, nakal, urakan, liar
tetapi dirindukan dan
diandalkan. Setelah Boy Jati
Asmara, akhirnya kita bisa
melihat lagi pemain yang
bermain penuh semangat,
meledak-ledak dan tidak
takut akan apapun.
Pengalamannya bermain
diluar Bandung telah
menguatkan karakternya.
Kita melihat Boy Jati Asmara
dengan level yang lebih
canggih pada diri Ferdinand.
Akhirnya kita bisa melihat
garda terdepan orang yang
maju untuk berperang dalam
dirinya. Seakan melihat Will
Smith dalam film Hancock,
pahlawan memang tidak
selalu harus berasal dari
orang yang bersih suci.
Ferdinand Alfred Sinaga
adalah sosok anti-hero yang
keren. Menjadi pahlawan
dari sisi yang “kotor”.
Jika waktu memang berulang
dan dejavu itu benar ada,
mari berharap pada tweet
Ferdinand pada tanggal 28
Januari ini: “Saya yakin
Rudiyana akan menjadi
pemain yang besar dan
menjadi striker yang tajam
untuk Persib dimasa
depan…”
Omongan Ferdinand adalah
doa? Entahlah…