18/10/2019
---ANAK POLITISI---
Di sebuah pameran pendidikan.
Seorang siswi datang ke mejaku.
"Mbak, mau konsultasi soal study di Australia atau UK. Jadi, aku mau ambil S1 Hukum. Pengenku sih ambil International Program di *** terus double degree, entah ke Australia atau ke UK. Kalau nggak, langsung ke Australia atau UK juga nggak apa-apa."
*Notes : dia tidak mencari beasiswa. Dia akan sekolah ke luar negeri dengan biaya dari orang tuanya.
Ngobrol panjang lebar, sambil ngakak-ngakak, karena bagaimana pun, meski aku elegan aku harus memosisikan diri saat menghadapi anak muda milennial.
"Emang kamu nanti pengen jadi apa? Pengacara?" tanyaku.
"Nggak sih. Pengen jadi anggota DPR. Nggak yang DPRD loh ya. Tapi DPR pusat," jawab siswi itu.
Dari cara bicaranya, aku rasa memang dia cerdas. Setidaknya secara akademis.
"Why DPR?" tanyaku. Pembicaraan mulai serius.
"Keluargaku semua politisi. Partai *** Jadi ya background keluarga tuh mempengaruhi aku buat pengen terjun ke dunia politik gitu."
Asik ya. Anak SMA udah begini obrolannya. But then ....
"Lagian ya Mbak. Kapan lagi sih bisa dapat gaji gede dengan kerja sak karepe dewe (semau sendiri)? Tidur siang dibayar, kunjungan ke LN. Makanya aku pengen banget jadi anggota DPR. Anj*r. Itu kerjaan impian gue banget!" serunya. Siswi ini memang asli Jakarta.
Aku menghela napas.
"Lo sarkas apa serius?" tanyaku. Dia tertawa.
"Serius lah, Kakak. Aku kan orangnya realistis. Sekarang tuh bukan jamannya orang idealis. Bisa aja sih aku jadi orang idealis. Tapi jaman sekarang, yang idealis itu gampang habis. Entah habis dengan sendirinya, atau habis karena dihabisin. Ya aku sih nggak munafik ya. Aku tipe realis."
Kucoba menelisik, mengamati sorot mata siswi ini. Berapi-berapi. Jelas, dia memang tidak sedang bercanda atau sarkas soal ini.
"Jadi, tujuanku pengen jadi anggota DPR itu bukan karena alasan idealis, misalnya mau memperbaiki kinerja DPR. Ih, males banget. Alasanku realistis. Logis. Karena jadi anggota DPR itu enak. Gajinya banyak," jawabnya.
Aku speechless seketika. Sekali lagi, dia memang sedang tidak bercanda.
"Then, why bachelor of law? Kenapa mau ambil program sarjana hukum? Anggota DPR kan bisa lulusan SMA," pancingku. Sengaja. Aku ingin tahu alasannya.
Lagi-lagi dia tertawa.
"OMG, Mbak. Seriously?" ucapnya. Dia menyipitkan mata, lalu tertawa.
Damn!
Anak ini memang cerdas. Dia tahu jika aku hanya mengetesnya. Tentu saja aku tahu alasannya.
"Kalau aku cuma lulusan SMA, aku buta hukum. Kalau aku lulusan hukum, aku jadi melek hukum. Keuntungannya, aku bisa lebih siap saat nanti aku berkasus dengan hukum dan of course, aku juga jadi bisa cari celah buat memanip**asi hukum. Biar tetap menguntungkan buat aku," jelasnya.
Kutilik lagi ekspresinya. Dia tidak bercanda.
Lalu sudah, setelahnya kami kembali mengobrol santai.
Siswi ini datang bersama sahabatnya. Si kalem asli Jogja yang ingin menjadi psikolog katanya.
Aku kembali mengajak mereka bercanda.
"Mas, kamu tahu nggak kenapa mereka berdua berteman dekat?" tanyaku pada rekanku, yang datang ke acara ini bersamaku.
Dia menggeleng. Dia juga speechless dengan jawaban siswi anak politisi itu.
"Jadi kalau suatu saat nauzubillah dia gagal nyaleg di DPR dan dia depresi, dia bisa langsung dapat pertolongan psikolog yang tepat. Sukur-sukur gratis. Kan bangkrut ceritanya," candaku.
Si gadis Jogja tertawa. Tapi si siswi anak politisi memberikan respon berbeda.
"Oh, sorry. In my case, itu sih nggak bakal terjadi ya. Karena lahir dan gede di keluarga politisi, aku tahu d**g soal orang dalam. Soal link-link posisi dan segala macam. Yang pasti aku nggak akan keluar banyak uang."
โ๏ธโ๏ธโ๏ธ
Siswi anak politisi.
17 tahun usianya. Sudah secadas ini bicaranya.
Bisa dibayangkan betapa 'ngeri' hal-hal yang dia saksikan selama dia lahir dan tumbuh di keluarga politisi sehingga dia bisa bicara seperti ini.
Kadang terlintas sekelebat tanya tentang peranku. Eh, aku belum bilang ya jika ini pengalaman nyataku?
Tapi, bukankah perkara niat dan needs behind the needs alias alasan sebenarnya dia untuk lanjut study di program tertentu adalah urusannya?
Tugasku hanyalah sebagai konsultan hanyalah mengarahkan, menunjukkan jalan sesuai pilihan yang dia inginkan. Perkara niat siswi itu, sudah lain urusan.
Ya.
Sebagai seorang konsultan, aku bertemu banyak orang.
Latar belakang berbeda, orang yang berbeda, menghasilkan cerita yang berbeda p**a.
Hey, anak cerdas.
Seiring berjalannya waktu, semoga semakin bijak langkahmu ya, Sayang.
Sayang jika kecerdasanmu kesasar di jalan yang salah.
Aku tulus mendoakanmu.
(by bu Fissilmi Hamida)
In frame :
Bukan foto siswi itu. Sebagian besar ortu mereka pun bukan politisi. Tetapi aku percaya, menyiapkan generasi yang tetap teguh dalam kebenaran walau jika akhirnya sekelilingnya berlomba dalam kebatilan, adalah keniscayaan...
Sharing with adik-adik Garuda Keadilan Kota Blitar
Untuk Semua