KALIGRAFI Timbul

KALIGRAFI Timbul Berbagi informasi seputar kaligrafi dan dunia islam.

MENGENAL  KALIGRAFI ARAB ATAU KHAT: ASAL USUL DAN JENISNYAJakarta - Apabila mendengar kata kaligrafi, sebagian dari kamu...
22/12/2024

MENGENAL KALIGRAFI ARAB ATAU KHAT: ASAL USUL DAN JENISNYA

Jakarta - Apabila mendengar kata kaligrafi, sebagian dari kamu mungkin akan langsung merujuk pada seni menulis indah yang tersusun dalam bahasa Arab, baik sekadar tulisan huruf Arab ataupun kalimat yang diambil dari firman Allah.
Namun jika melihat dari asal kata, 'kaligrafi' merupakan istilah dari bahasa Latin yaitu 'kallos' artinya indah dan 'graph' artinya tulisan atau aksara. Demikian, kaligrafi menurut buku Seni Kaligrafi Islam oleh Sirojuddin A.R., adalah kepandaian menulis elok (indah) atau tulisan elok.

Dalam bahasa Arab, seni menulis indah ini disebut Khat (bermakna: garis atau tulisan indah). Sehingga, tulisan indah menggunakan bahasa Arab yang mungkin pernah detikers lihat dikenal dengan kaligrafi Arab atau Khat.

Di antara para ahli terdapat sedikit perbedaan dalam menyebut kaligrafi berbahasa Arab. Ada yang menamakannya dengan 'kaligrafi Arab'. Serta ada pula yang menyebutnya dengan 'kaligrafi Islam' lantaran asal-usulnya yang disebut berkaitan sejarah keagamaan Islam.

Walau begitu, asal mula pencipta atau yang menciptakan kaligrafi masih terdapat beragam pendapat di kalangan ahli.

Asal-usul Kaligrafi Arab
Dikutip dari arsip detikEdu, sejarawan ada yang mengemukakan bahwa kaligrafi pertama kali ditemukan pada relief makam raja-raja terdahulu yang banyak terdapat di Abidos. Tak hanya itu, ada yang menyebut kaligrafi juga ditemukan di kawasan sungai Nil.

Sementara dalam buku Seni Kaligrafi Islam, kaligrafi Arab diungkap telah ada sejak masa kepemimpinan khalifah Utsman bin Affan. Kaligrafi mulai lahir ketika Utsman berupaya mengumpulkan ayat suci Al-Qur'an menjadi mushaf.

Ia mengembangkan cara dan gaya penulisan ayat-ayat Al-Qur'an agar umat Islam tertarik untuk membaca dan mempelajarinya. Demikian seni kaligrafi yang berkaitan dengan kalam-kalam Allah diyakini hadir sejak masa kekhalifahan Utsman.

Sejak itu pula, kaligrafi dikenal sebagai warisan seni Islam yang menunjukkan perkembangan dan kemajuan peradaban Islam dalam segi budaya dan keilmuan.

Selain identik dengan ayat-ayat Al-Qur'an, kaligrafi Arab tersusun dari kalimat hadits Nabi Muhammad SAW, syair, sampai kata-kata mutiara berbahasa Arab. Kaligrafi juga biasa diukir indah pada sejumlah media, seperti tembok, dinding, kertas, hingga kanvas.

Seni kaligrafi Arab tidaklah sembarang melainkan punya pola kaidah yang ditentukan dengan ketat. Di mana ada rumus dasar kaligrafi baku yang dikenal dengan sebutan al-Kath al-Mansub (kaligrafi standar).

Standar ini mencakup pengukuran titik, alif, hingga lingkaran yang bisa diukir pada seni kaligrafi ini. Kaidah baku pada kaligrafi Arab berbeda di antara sejumlah jenis alirannya sehingga tak bisa dicampur aduk.

Adapun penyimpangan atau pencampuradukan standar di antara satu sama aliran kaligrafi Arab bisa dinilai sebagai kesalahan karena tak sesuai dengan rumus yang telah ditetapkan.

Jenis-jenis Kaligrafi Arab
Khat atau seni kaligrafi Arab memiliki berbagai macam aliran. Menukil jurnal milik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, di antara jenis-jenis kaligrafi Arab adalah sebagai berikut:

1. Khat Naskhi
Kaligrafi Naskhi disebut juga khat Nasakh. Aliran kaligrafi satu ini cenderung memiliki bentuk yang geometris. Tanpa diukir dengan sejumlah struktur dan komponen yang kompleks. Khat Naskhi termasuk kategori kaligrafi yang berasal dari jazirah Arab

2. Khat Tsuluts
Jenis khat Tsuluts bersifat monumental. Oleh sebab itu, kaligrafi macam ini biasa dijadikan sebagai dekorasi seperti dalam manuskrip atau hiasan pada tembok bangunan. Khat ini juga berasal dari negeri Arab.

3. Khat Farisi
Aliran Farisi berasal dari wilayah Iran, tepatnya lahir setelah Islam sampai di Persia. Khat ini memiliki ciri terlihat dari hurufnya yang dituliskan condong ke kanan dan lebar hurufnya yang terkadang tak sama.

4. Khat Diwani
Khat Diwani berasal dari Turki Utsmani dan mulai populer setelah penaklukan Konstantinopel. Awalnya, kaligrafi ini digunakan untuk keperluan pemerintahan saja seperti untuk menulis dokumen dan buku kenegaraan. Namun kemudian, khat Diwani tersebar ke kalangan masyarakat dan sekarang dipakai sebagai dekorasi.

6. Khat Jali Diwani
Jali Diwani merupakan aliran khat yang dikembangkan dari jenis Diwani. Kaligrafi satu ini juga berasal dari Turki Utsmani dan dahulu dimanfaatkan dalam menulis peraturan atau surat yang ditujukan untuk urusan luar negeri.

7. Khat Kufi
Aliran kaligrafi Kufi berasal dari jazirah Arab, tepatnya kota Kufah di Irak. Khat Kufi merupakan kaligrafi tertua yang telah muncul sebelum Islam hadir.

Khat jenis Kufi memiliki ciri tulisan yang kaku dan punya sudut persegi yang khas. Kini, kaligrafi berjenis Kufi banyak digunakan sebagai hiasan interior.

8. Khat Riq'ah
Aliran Riq'ah adalah bentuk khat yang ditulis cepat dan cenderung berjenis stenografi. Khaf jenis ini biasa dipakai oleh masyarakat di Mesir.

9. Khat Raihani
Khat Raihani merupakan perpaduan antara khat Tsuluts dan Nasakh. Ciri tulisan kaligrafi macam ini terletak pada tulisan harakatnya yang ditulis dengan tinta berwarna dan penulisan garis vertikalnya lurus juga memanjang.

Kaligrafi jenis Raihani kerap digunakan di wilayah Persia untuk menyalin mushaf Al-Qur'an yang berukuran besar.

Itulah penjelasan mengenai asal-usul dan jenis-jenis kaligrafi Arab atau yang dikenal pula dengan Khat.

Sumber :
detik.com / detikEdu / DetikPedia
Azkia Nurfajrina - detikEdu

Baca artikel detikedu, "Mengenal Kaligrafi Arab atau Khat: Asal-usul dan Jenis-jenisnya" selengkapnya https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6888340/mengenal-kaligrafi-arab-atau-khat-asal-usul-dan-jenis-jenisnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Foto : Foto: Getty Images/Fadel Dawod

--- Warisan Islam di Kota Tua Bhopal, India ---Kehidupan masih berputar di Bhopal, India dengan tingkat energi yang sama...
02/08/2018

--- Warisan Islam di Kota Tua Bhopal, India ---
Kehidupan masih berputar di Bhopal, India dengan tingkat energi yang sama seperti yang terjadi berabad-abad lalu. Jalan-jalan yang padat di Kota Tua Bhopal memancarkan udara Islam pada abad pertengahan dengan gerbang kuno yang berhadapan dengan kumpulan bangunan antik dan monumen.

Dilansir The New Indian Express, wilayah ini adalah pusat dinasti Muslim yang dipimpin oleh jenderal Afghanistan, Dost Mohammed Khan. Permata dari pemerintahannya yang berumur 200 tahun itu adalah empat penguasa wanita di tanah itu. Mereka dikenal sebagai Begums of Bhopal.

Selama mereka menjabat, yaitu dari 1817 hingga 1926, mereka membentuk Bhopal menjadi salah satu kota terindah di India. Kota ini pun mengundang pujian dari kaisar Mughal di Delhi.

Para ratu tidak hanya membentuk lanskap danau kota dengan istana, rumah bangsawan, masjid, pasar, dan monumen yang menarik perhatian. Tetapi juga memberikan penyelesaian fasilitas umum yang penting seperti pengairan, kereta api, sistem pos dan kotamadya. Sebagian besar arsitektur tersebut masih ada untuk menunjukkan sentuhan agung dan campuran gaya arsitektur yang luar biasa. Bangunan-bangunannya bertahan dari panas dan debu di Central India.

Chowk adalah jantung dari Kota Tua Bhopal. Bangunannya dengan puncak yang menjulang, siluet cembung dari kubahnya dan dinding pertahanan yang besar. Jalan raya dipenuhi dengan toko-toko dan rumah-rumah tua, dipenuhi oleh orang-orang yang berkendara. Seorang muazin mengumandangkan adzan dari masjid terdekat di kota itu.

Masjid adalah permata Bhopal. Taj-ul-Masajid — dikatakan sebagai tempat ibadah Islam terbesar di India — menempati urutan teratas. Pengaturan kolosal dengan dinding merah muda yang mewah, kubah putih dan menara-menara yang menjulang tinggi memesona. Penguasa perempuan ketiga Bhopal Shah Jehan Begum menugaskan pembangunan masjid tersebut pada akhir abad ke-19. Tetapi konstruksinya dihentikan setelah kematiannya. Pekerjaan itu pun dilanjutkan pada akhir abad ke-20.

Dua masjid lain yang menarik perhatian adalah Masjid Jama, yang terkenal karena kubahnya yang berlapis emas. Juga Masjid Moti, yang secara arsitektur menyerupai Masjid Jama di Delhi. Begums telah meninggalkan jejak arsitektur yang indah di belakangnya.

Terdapat pula masjid yang dianggap sebagai masjid terkecil di dunia. Masjid itu berdiri di atas menara batu yang telah hancur. Duly, masjid itu merupakan bagian dari benteng tua, yang sekarang menjadi rumah sakit modern.

Legenda mengatakan masjid dibangun oleh penguasa awal rezim Khan untuk penjaga benteng. Di situ dia beribadah di saat jam kerja. Untuk masuk ke dalam masjid membutuhkan dua langkah besar dan satu langkah yang relatif lebih kecil. Itulah sebabnya masjid ini secara lokal dikenal sebagai 'Masjid Dua dan Setengah Langkah'. Warisan Islam di sini memiliki tempat baik untuk kesalehan dan kesenangan.

Republika.co.id

(Seni Kaligrafi Utsmaniyah Bertahan Lima Abad)Berawal dari masa kejayaan Syekh Hamdullah, kaligrafi Turki Utsmani terus ...
02/08/2018

(Seni Kaligrafi Utsmaniyah Bertahan Lima Abad)

Berawal dari masa kejayaan Syekh Hamdullah, kaligrafi Turki Utsmani terus bertahan dalam rentang waktu yang panjang, yakni lima abad. Kaligrafi Turki Utsmani mencapai titik keemasannya pada abad ke-19 dan 20.

Meski Syekh Hamdullah dipuja sebagai bapak kaligrafi Turki, namun ranah kaligrafi di negeri itu tak melulu tampil dengan gaya Hamdullah. Dalam perkembangannya, muncul gaya-gaya lain.

Di antaranya, gaya jeli, syikastah, syikastah-amiz, diwani, dan diwani jali. Syikastah (bentuk patah) adalah biasanya digunakan untuk keperluan praktis.

Sementara gaya diwani dikembangkan oleh Ibrahim Munif pada akhir abad ke-15. Gaya ini didominasi oleh garis-garis melengkung dan bersusun. Belakangan, gaya diwani dikembangkan lagi dan lahirlah gaya diwani baru.

Gaya diwani baru itu disebut juga dengan diwani jali atau humayuni (kerajaan). Gaya ini dikembangkan sepenuhnya oleh Hafidz Usman dan murid-muridnya.

Ketika Sultan Bayezid II wafat, kejayaan Syekh Hamdullah pun meredup. Kaligrafer yang sepanjang hayatnya telah menulis 47 salinan Alquran itu pun memutuskan angkat kaki dari Istanbul dan pulang ke kota asalnya di Anatolia Utara, Turki bagian barat.

Sumber: republika.co.id

GAYA KALIGRAFI UTSMANIYAHPada masa Kesultanan Turki Utsmani, kaligrafi menjadi unsur dekoratif penting. Tiap gaya kaligr...
02/08/2018

GAYA KALIGRAFI UTSMANIYAH

Pada masa Kesultanan Turki Utsmani, kaligrafi menjadi unsur dekoratif penting. Tiap gaya kaligrafi memiliki ragam penggunaan tersendiri.

Gaya jeli, misalnya, banyak digunakan dalam skala besar. Ia banyak tampil dalam dekorasi prasasti pada bangunan-bangunan keagamaan. Kaligrafi gaya jeli juga kerap digunakan sebagai penghias bangunan-bangunan publik.

Begitupun buku atau mushaf, kerap menggunakan kaligrafi gaya jeli sebagai unsur dekoratif. Di kemudian hari, gaya jeli banyak dikombinasikan dengan bentuk-bentuk geometri dan bentuk alam.

Lain lagi dengan kaligrafi gaya tsulus jeli dan ta'lik jeli. Ditampilkan dalam skala besar, gaya tersebut biasanya digunakan untuk dekorasi interior pada kawasan publik. Tak jarang, kaligrafi dengan gaya ini juga menghiasi bangunan-bangunan swasta.

Ada pula gaya kaligrafi hilye. Diciptakan oleh Hafidz Usman pada akhir abad ke-17, gaya ini banyak mendeskripsikan karakter dan perilaku Rasulullah SAW. Di Turki, kaligrafi gaya ini juga telah diterapkan dalam skala besar.

Selain kaligrafi yang berkembang di wilayah Turki Usmani, ada dua gaya kaligrafi yang secara umum berkembang di dunia Islam, yaitu kufi dan naskhi.

Dari: Republika.co.id

Contoh gambar kaligrafi timbul yang kami buat sendiri secara handmade. Bahan2 terdiri dari :1). Semen putih2). Lem putih...
16/04/2018

Contoh gambar kaligrafi timbul yang kami buat sendiri secara handmade. Bahan2 terdiri dari :
1). Semen putih
2). Lem putih / lem rajawali
3). Cat besi warna hijau tua dan warna emas.
4). Figura fiber box 3D ukuran 50×40 cm.
5). Kuas 2 inci dan kuas lukis kecil
6). Triplek sebagai media aplikasi tulisannya.
7). Amplas

Cara membuat singkat,
Flamir triplek dg semen dan lem. Tunggu smpai kering. Amplas permukaan biar halus.
Tulis desain kaligrafi dg pensil/kapur warna bebas.
Kmdn buat adonan semen dan lem, agak encer jgn terlalu kental biar mudah kalo di keluarkan. Buat plastik spt kerucut utk dimasukan adonan td .
Stlh adonan dimasukkan pd plastik, ikat kuat2. Lalu lubangi ujung kerucutnya. Lalu aplikasikan adonannya ke tulisan kaligrafi.
Tunggu smpai kering. Amplas tulisan biar halus teksturnya.

Kmdn cat seluaruh permukaan dg cat hijau tua. Tunggu kering.
Lalu stlh kering cat tulisannya dg cat emas.

Sekian semoga bermanfaat. 😊
Admin. MS.

MINIATUR PERSIA KEINDAHAN LUKISAN DAN KALIGRAFIFigur-figur dalam lukisan itu bermata sipit, memakai turban dan jubah, se...
24/02/2018

MINIATUR PERSIA KEINDAHAN LUKISAN DAN KALIGRAFI

Figur-figur dalam lukisan itu bermata sipit, memakai turban dan jubah, serta mempunyai sayap di punggungnya. Ada satu figur sentral yang wajahnya tak terlukis, menunggang kuda berkepala manusia yang lagi-lagi matanya sipit, seakan-akan sedang terbang. Dia dikelilingi figur-figur bermata sipit dan bersayap tadi. Tulisan huruf Arab di sekelilingnya menghapuskan kebingungan akan asal lukisan itu.

Ya, itu adalah lukisan dari Persia pada abad ke-16 M yang menceritakan tentang kisah Isra Mi'raj Nabi Muhammad. Sosok nabi diwakili oleh figur yang wajahnya tak dilukis. Lalu, mengapa para malaikat yang mengiringi naiknya nabi ke Sidratul Muntaha itu digambarkan dengan mata sipit?

Invasi Mongol ke Baghdad pada 1055 M tak hanya membawa kehancuran fisik bagi peradaban Islam, tetapi juga membawa pengaruh baru, yaitu seni lukis dari Cina. Dinasti Seljuk mengaplikasikan gaya lukisan Cina ke berbagai bentuk lukisan di wilayah yang dikuasainya saat itu yang meliputi Iran dan Irak saat ini. Awalnya, tentu saja mereka menggambarkan figur-figur yang berwajah Turki-Mongol yang bermata sipit.

Seniman Persia yang berada di bawah kekuasaan Il Khan pada abad ke-13 mulai menggabungkan ilustrasi dari seni lukis Cina yang digabungkan secara sempurna dengan kaligrafi yang kemudian lebih dikenal dengan nama miniatur Persia. Bila lukisan Cina memberi banyak ruang kosong, seniman Persia mengisinya dengan berbagai objek, baik figur manusia maupun binatang serta pemandangan alam.

Gaya sapuan kuas Cina yang berani, tapi sekaligus halus memberi jalan bagi masuknya kaligrafi ke dalam lukisan yang kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dari miniatur Persia. Semua pembuat miniatur Persia adalah juga seorang ahli kaligrafi sebelum mereka menjadi pelukis.

Menurut buku Art of Islam, Language and Meaning; dalam peradaban Islam kala itu, seni menulis lebih menonjol dibanding seni menggambar atau membuat simbol, tetapi keduanya akhirnya digabungkan dalam seni pembuatan buku yang dihiasi miniatur. Keindahan miniatur tidak hanya terletak pada lukisannya, tetapi juga nuansa puitis pada tulisan kaligrafi.

Menyusun sebuah miniatur bukanlah pekerjaan gampang dengan bahan-bahan yang mahal, bahkan kadang memakai emas dan perak. Seorang seniman miniatur bisa menghabiskan waktu satu tahun untuk membuat satu lukisan saja. Karena itu, seni ini hanya bisa dinikmati oleh golongan kaya dan kaum elite di Persia yang mampu membiayai sebuah proyek miniatur. Seniman miniatur pun otomatis bagaikan kaum selebritas yang banyak dicari para pembesar.

Miniatur Persia tak hanya menggambarkan hal-hal yang bersifat duniawi, tetapi juga spiritual. Karena itu, muncullah lukisan-lukisan mengenai malaikat dan juga proses Isra dan Mi'raj tadi. Berbeda dengan kalangan Sunni yang sangat ketat dalam mengimplementasikan lukisan ke ranah teologi, apalagi menggambarkan fisik nabi naik Bouraq (kuda berkepala manusia menurut versi Persia). Di Persia yang mayoritas berpaham Syiah, batasan antara kebebasan berekspresi dan ajaran agama lebih longgar.

Seni miniatur Persia terus berkembang tak hanya pada masa Il Khan (1256-1336 M), tetapi juga penguasa Mongol berikutnya, seperti masa Dinasti Timurid (1387-1502) dan diteruskan oleh penguasa dari wangsa Persia, yaitu Dinasti Safawi (1501-1772), yang membebaskan negerinya dari kekuasaan Mongol. Pengaruh lukisan Cina tetap kental karena Dinasti Safawi mempunyai hubungan baik dengan negeri Asia Timur itu.

Dari Persia, seni miniatur berkembang ke Turki yang mempunyai bentuk lukisan yang lebih kaku dengan gaya Mongol yang kuat, seperti ditunjukkan dalam buku Siyah Qalam pada abad ke-15. Miniatur Persia juga menemukan jalan sampai ke India yang dikuasai Dinasti Mughal. Di tempat ini, lukisan gaya miniatur mempunyai tugas yang bersifat lebih duniawi dibanding di Persia, yaitu untuk menggambarkan peristiwa-peristiwa penting di Kerajaan Mughal dengan gaya lukisan yang lebih detail dan realistis.

Seni miniatur Mughal juga membawa pengaruh kepada para seniman Hindu,
ditambah gaya seni lukis dari gaya Renaisans yang masuk dari Eropa. Sementara, gaya Hindu juga menyelusup pada seni miniatur Mughal lewat seni penggambaran bentuk tubuh manusia yang lebih luwes.

Namun, seni miniatur Persia sudah mulai memudar di bawah kekuasaan Dinasti Safawi, tepatnya mulai pertengahan abad ke-16. Karena sifatnya yang sangat eksklusif di kalangan istana dan juga tak ada kaitannya yang kuat dengan ajaran agama Islam, seni miniatur Persia bertekuk lutut ketika berhadapan dengan seni lukis miniatur Eropa yang lebih berkembang saat itu.

Disarikan dari Mozaik Republika
Sumber: Republika online

PERSONA MASJID BURSASeperti dilansir dari laman resmi Masjid Agung Bursa, BursaUluCamii.com, kompleks ini memiliki luas ...
24/02/2018

PERSONA MASJID BURSA

Seperti dilansir dari laman resmi Masjid Agung Bursa, BursaUluCamii.com, kompleks ini memiliki luas 2.215 meter persegi. Dalam bentuk aslinya, ke-20 kubah ini juga berfungsi untuk menadah air, yakni bila hujan turun dan mengalir dari pucuk kubah ke tepiannya.

Air hujan disalurkan ke kolam tempat wudhu (sadrvan). Namun, kini fungsi itu diubah dan diganti dengan bahan kaca bening yang tebal. Sehingga, fungsinya bukan lagi menadah air hujan, melainkan meneruskan cahaya matahari untuk menembus sisi dalam masjid ini.

Kolam sadrvan berbentuk segi-18 dengan diameter kira-kira enam meter.
Letaknya di dalam masjid, persis di tengah-tengah. Air pancur terletak di tengah kolam ini dan terdiri atas tiga tingkat dengan tinggi 2,5 meter.

Dinding kolam sadrvan setinggi satu meter dengan belasan kran pada tiap-tiap sisi.
Air bersih melalui lubang tersebut sehingga jamaah dapat berwudhu sambil duduk.

Mengapa bisa ada kolam berdinding marmer putih di dalam masjid, di tengah- tengahnya pula? Dirawikan bahwa tanah lokasi kolam ini dahulunya kepunyaan seorang perempuan paruh baya.

Ia menolak melepaskan lahan miliknya seluas 65 meter persegi itu kepada penguasa. Akhirnya, penguasa Ottoman merebutnya dengan paksa, tetapi tidak lantas menjadikan lahan itu sebagai tempat ibadah. Namun, banyak yang meragukan kebenaran cerita ini sebagai fakta sejarah.

Kaligrafi Interior masjid ini kaya akan lukisan- lukisan kaligrafi yang indah.
Totalnya, ada 45 pajangan dan 87 dinding keramik yang dihiasi kaligrafi karya 21 orang seniman terkemuka Ottoman. Kaligrafi ini tersebar di dinding pilar, mimbar, ataupun dekat pintu-pintu ma suk masjid.

Beberapa lampu gantung memancarkan cahaya krem, selaras dengan warna dinding interior masjid. Hamparan permadani merah berkualitas tinggi menimbulkan kesan anggun, tetapi damai dan kontemplatif.

Langit-langit yang terletak di atas kolam sadrvan dibiarkan terbuka sehingga cahaya matahari masuk dan berpencar ke seluruh ruangan. Puluhan pilar tersebar di sana untuk menopang 20 kubah di atasnya.

Pintu-pintu dan mimbar masjid ini terbuat dari bahan kayu. Mimbar Masjid Agung Bursa menampilkan gambar konstelasi tata surya yang menandakan pesatnya perkembangan sains di zaman Ottoman awal.

Di sisi timur mihrab, ada daun pintu yang berusia satu abad dan berasal dari Ka'bah.
Namun, kini pintu istimewa tersebut diletakkan dalam kotak kaca sebagai pajangan atau artefak historis.

Dalam laman pariwisata Bursa, TheBestOfBursa. com disebutkan, bagian eksterior Masjid Agung Bursa terbuat dari bahan batu cadas. Dua menara pada sisi kanan dan kiri masjid ini tampak kembar, tetapi sebenarnya dibangun pada tahun yang berbeda.



Artinya, pada awalnya dimaksudkan hanya satu menara, yakni yang terletak di sisi barat. Menara di sisi timur baru dibangun kemudian dalam era Sultan Mehmet I pada abad ke-15.

BURSA, TEMPAT LAHIRNYA KEBUDAYAAN OTTOMAN

Untuk meningkatkan daya tarik pariwisata, otoritas Turki menyebut masjid ini sebagai masjid kelima terpenting di dunia Islam. Puncak kejayaan peradaban Islam meninggalkan banyak jejak di Turki.

Salah satunya adalah Bursa yang terletak di antara Laut Marmara di utara dan Pegunungan Uludag di selatan. Jaraknya hanya satu jam perjalanan dari Istanbul.

Pada 2014 lalu, UNESCO mendeklarasikan Bursa sebagai tempat lahirnya kebudayaan Kesultanan Ottoman. Sejak saat itu, Bursa termasuk ke dalam daftar warisan sejarah dunia versi PBB.



Masjid Agung Bursa merupakan salah satu situs bersejarah di sana. Bangunan utamanya bercorak arsitektur dari masa Kesultanan Seljuk.

Akan tetapi, masjid ini dibina atas perintah penguasa Ottoman saat itu, Sultan Bayezid I. Pembangunannya berlangsung selama tiga tahun, yakni 1396 sampai 1399.

Arsitek yang merancang masjid ini adalah Ali Neccar, figur yang terus mengabdi pada Ottoman hingga era Sultan Mehmed Sang Penakluk Konstantinopel. Bila dilihat dari udara, kompleks Masjid Agung Bursa berbentuk persegi panjang.

Masjid yang sampai kini terbesar di Bursa ini memiliki 20 kubah dan dua menara.
Kedua puluh kubah itu membentuk formasi kolom 5x4. Jumlah tersebut dilatari kisah dari masa lalu.

Sumber: Republika.co.id

KEUNIKAN ARSITEKTUR MASJID RAYA NIZHNEKAMSKPerlu waktu 10 tahun untuk menyelesaikan pembangunan kompleks Masjid Raya Niz...
24/02/2018

KEUNIKAN ARSITEKTUR MASJID RAYA NIZHNEKAMSK

Perlu waktu 10 tahun untuk menyelesaikan pembangunan kompleks Masjid Raya Nizhnekamsk. Proyek ini juga menghabiskan dana tidak kurang dari 60 juta rubel (kini setara Rp 13,4 miliar). Menurut tokoh agama setempat, seperti dikutip laman asosiasi Muslim lokal Tatarstan, MRBRT, banyak orang bergotong royong untuk mewujudkan masjid ini.

Rentang waktu yang lama itu di antaranya karena krisis finansial. Bahkan, proyek sempat dijeda. Bagaimanapun, semangat solidaritas kaum Muslim di sana terbilang tinggi. Dalam satu bulan, uang sebesar 1 juta rubel mulai terkumpul sehingga proyek ini dapat kembali diteruskan. Demikianlah sampai pada 1996 Masjid Raya Nizhnekamsk sempurna.

Para pengunjung dapat memasuki kompleks masjid ini melalui dua gerbang utama. Satu untuk jamaah laki-laki, sedangkan yang lain untuk perempuan. Sekilas, Masjid Raya Nizhnekamsk tidak seperti masjid yang biasa dijumpai di negeri-negeri mayoritas Muslim.

Sebab, tidak ada kubah yang melingkupi bagian atasnya. Di Rusia, kubah memang termasuk ciri bangunan rumah- rumah ibadah bukan hanya Islam, melainkan Kristen Ortodoks. Tidak sedikit masjid di Rusia yang atapnya berbentuk konvensional yakni limas.

Bagaimanapun, Masjid Raya Nizhnekamsk memiliki atap yang terbilang unik. Atap masjid ini berwarna hijau-gelap. Bentuknya cenderung landai. Bentuk bangunan utamanya juga menyerupai kubus yang terpotong di bagian atasnya. Ini menyebabkan jendela-jendela besar pada setiap sisi masjid ini memiliki tinggi yang berbeda-beda.

Di setiap sudut bangunan utama ini terhampar koridor yang mengarah pada menara-menara yang menjulang bagaikan pensil raksasa. Pada menara sisi barat dan timur terdapat kaligrafi lafazh Allah dan Nabi Muhammad SAW di dekat pucuknya. Dengannya, orang-orang yang awam gaya bangunan Rusia dapat mengenali tempat ini sebagai masjid.

Hiasan kaligrafi juga terdapat di dinding luar dekat pintu-pintu utama masjid ini. Tampilan menara-menara Masjid Raya Nizhnekamsk agaknya mengikuti gaya arsitektur Ottoman. Seperti halnya atap, bagian pucuk setiap menara ini juga berwarna hijau-gelap. Secara ke seluruhan, masjid ini didominasi warna krem. Hamparan rumput tumbuh asri di sekitar rumah ibadah tersebut.

Bagian dalam masjid ini tidak kalah indahnya. Pada dindingnya terdapat lampu tempel yang ditenagai listrik. Warna dinding ini putih dan semakin tampak cerah pada siang hari lantaran pantulan sinar matahari. Sajadah panjang yang melapisi lantai berwarna cokelat muda.

Bagian mihrabnya menjorok ke luar. Di sana terdapat lengkung yang dihiasi kaligrafi dengan pola-pola yang meniru tanaman menjalar. Warna latarnya cokelat keemasan, sehingga tampak selaras dengan kaligrafi hitam itu. Imam atau khatib menyampaikan ceramahnya di atas mimbar bertangga.

Komunitas Muslim Tatarstan kebanyakan menganut mazhab Hanafi. Menu rut seorang tokoh lokal, dilansir situs resmi MRB RT, Masjid Raya Nizhnekamsk selalu padat kegiatan-kegiatan dakwah dan pendidikan. Fokusnya antara lain membangun ikatan yang kuat di antara mereka, khususnya kalangan generasi muda.

Apalagi, masjid ini dilengkapi dengan madrasah yang bukan hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam, melainkan juga pengetahuan umum. Demikian pula dengan isi koleksi perpustakaan yang cukup lengkap.

Nizhnekamsk menurut sensus tahun 2010 berpenduduk sebanyak 234 ribu jiwa. Sekitar 46 persen di antaranya merupakan etnis Tatarstan, yang memiliki sejarah panjang sebagai penganut Islam. Adapun sekitar 45 persen sisanya beretnis Rusia. Kota ini cukup terkenal dengan kawasan industri kimia yang terdapat di sana. Rusia sendiri merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di Benua Eropa.

Di saat yang sama, pemerintah setempat bersikap mengayomi terhadap komunitas Muslim lantaran mengutamakan persatuan yang menghargai kemajemukan. Apalagi setelah rezim komunis Uni Soviet runtuh menjelang permulaan abad ke-21.

SUMBER. republika.co.id

Gaya Tulisan Kaligrafi IslamMemasuki zaman Khalifah Bani Umayyah (661-750 M) mulai timbul ketidakpuasan terhadap khath K...
18/03/2017

Gaya Tulisan Kaligrafi Islam

Memasuki zaman Khalifah Bani Umayyah (661-750 M) mulai timbul ketidakpuasan terhadap khath Kufii yang dianggap terlalu kaku dan sulit untuk digoreskan. Lalu, dimulailah pencarian dan inovasi dengan bentuk-bentuk lain yang dikembangkan dari gaya tulisan lembut atau non-Kufik, sehingga lahirlah banyak gaya.

Yang terpopuler, di antaranya, Tumar, Jalil, Nisf, Sulus, dan Sulusain. Tokoh kenamaan Bani Umayyah adalah Qutban al-Muharrir, sedangkan Khalifah pertama Bani Umayyah Muawiyah bin Abu Sufyan (661-680) adalah pelopor pendorong diusahakannya pencarian bentuk-bentuk kaligrafi tersebut.

Pada masa Daulah Abbasiyah (750-1258) dikembangkan lagi gaya-gaya baru dan modifikasi bentuk-bentuk lama yang menghasilkan, khath Khafif Sulus, Khafif Suslusain, Riyasi, dan al-Aqlam as-Sittah/Sis Qalam (Sulus, Naskhi, Muhaqqaq, Raihani, Riqah, dan Tauqi).

Tokoh termuka pada zaman ini adalah al-Ahwal (abad ksembilan), Ibnu Muqlah (wafat 940 M) Ibnu Bauwab, dan Yaqut al-Musta'shimi. Pada kenyatannya ranting-ranting tulisan yang tumbuh sampai zaman Ibnu Muqlah, tokoh terbesar dan bapak kaligrafi Arab, berjumlah lebih dari 300 jenis.

Melalui tangan Ibnu Muqlah, kaligrafi didesain menjadi bentuk-bentuk yang geometris. Huruf-huruf diberi ukuran menurut kadar tipis tebal dan panjang pendek serta lengkung goresan secara pasti, sehingga menghasilkan bentuk anatomi yang seimbang.

Rumus Ibnu Muqlah ini dinamakan al-Khath al-Mansub, terdiri atas komponen alif, titik belah ketupat, dan standar lingkaran. Oleh karena itu, menurut Ibnu Muqlah, bentuk tulisan barulah dianggap benar-benar jika memiliki kriteria berikut; taufiyah(tepat), itmam (tuntas), ikmal (sempurna), isyaba (pada atau porposional), dan irsal (lancar goresannya).

Sedangkan, tata letak yang baik (husn al-wad'i), menurut insinyur geometri ini, menghendaki dalam empat hal; tasrif (rapat teratur), ta'lif (tersusun), tastir (selaras, beres), dan tansil (maksudnya bagaikan pedang atau lembing karena indahnya).

Gelar insinyur dan kedudukan Ibnu Muqlah yang tiga kali menjadi menteri untuk tiga Khalifah Abbasiyah sangat berperan bagi pengembangan teorinya yang sampai saat ini masih digunakan dan belum ditemukan teori alternatif yang lebih baik dari al-Khath al-Mansub.

Sumber:

Republika.co.id
Rep: c62 / Red: Agung Sasongko

Seruni.id
Islamicdesktop.net

KALIGRAFI, SENI MENULIS INDAH AYAT-AYAT SUCI AL-QUR'ANKaligrafi atau seni menulis indah, merupakan seni yang paling diha...
16/02/2017

KALIGRAFI, SENI MENULIS INDAH AYAT-AYAT SUCI AL-QUR'AN

Kaligrafi atau seni menulis indah, merupakan seni yang paling dihargai sepanjang sejarah Muslim. Menurut The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World, Alquran memberi pengaruh besar dalam perkembangan kaligrafi. Sebab, perasaan yang mendorong agar Alquran ditulis dengan indah, melahirkan beragam gaya kaligrafi.

Ada istilah lain kaligrafi yang muncul dengan sebutan ‘khat’, yang bermakna tulisan atau garis, dan mengacu pada tulisan yang indah. Ensiklopedi Islam terbitan PT Ichtiar Baru van Hoeve menjelaskan bahwa istilah khat dikemukakan oleh Syekh Syamsuddin al-Akfani. Ia adalah penulis berbagai cabang ilmu, seperti tasawuf dan kedokteran.

Dalam kitabnya yang berjudul Isryad al-Qasid yang membahas mengenai akhlak tasawuf, khususnya pada Hasyrul Ulum, Syekh Syamsuddin mengatakan, khat adalah ilmu yang memperkenalkan bentuk-bentuk huruf tunggal, penempatannya, dan cara merangkainya menjadi tulisan.

Khat, menurutnya pula, apa yang ditulis dalam baris-baris, bagaimana cara menulisnya, serta menentukan mana yang tidak perlu ditulis, menggubah ejaan yang perlu digubah, dan bagaimana menggubahnya. Pengertian ini merujuk pada syarat terwujudnya tulisan yang bagus, di antaranya kesempurnaan, tata letak, dan pengolahan huruf.

Kaligrafer bernama Yaqut al-Musta’simi (wafat 1298 Masehi) memaparkan, suatu tulisan dapat dikatakan indah jika tulisan itu menyebarkan pengaruh keindahannya ke hati, jiwa, dan pikiran. Bahkan, ia melahirkan pernyataan terkenal. Kaligrafi, ucap dia, adalah arsitektur rohani yang lahir melalui perabot kebendaan.

Pada masa awal Islam, yaitu masa Rasulullah dan para sahabat utama beliau, corak kaligrafi masih kuno dan merujuk pada tempat kaligrafi itu dipakai. Misalnya, Makki adalah kaligrafi yang dipakai di Makkah, Madani merupakan kaligrafi di Madinah, dan Kufi diartikan sebagai kaligrafi yang banyak ditemukan di Kufah.

Dari semua itu, Kufi menjadi favorit dan satu-satunya kaligrafi yang digunakan untuk menulis mushaf Alquran hingga berakhirnya kekuasaan para sahabat, dari Abu Bakar hingga Ali bin Abu Thalib. Selain kepiawaian dalam baca dan tulis, minat Muslim pada kaligrafi diperkuat dengan keinginan memperindah tulisan Alquran.

Di sisi lain, pemicu lainnya berasal dari ayat-ayat Alquran, seperti qalam (pena), kitab, dan yasturun (menggores). Ada pula pernyataan Rasulullah mengenai hal ini. “Kaligrafi yang bagus akan menambahkan kebenaran lebih nyata”. Pada masa kekuasan Bani Umayyah mulai ada perubahan. Ada ketidakpuasan dengan corak Kufi. Sebab, corak Kufi dianggap kaku dan sulit untuk digoreskan.

Berpijak pada kondisi itu, maka mulailah lahir tulisan bergaya lebih lembut. Corak yang terkenal adalah Tumar, Jalil, Nisf, Sulus, dan Sulusain. Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan menjadi sosok penting yang mendesak pencarian alternatif corak kaligrafi selain Kufi.

Ketika kekhalifahan di bawah kendali Abbasiyah, kaligrafi juga mengalami dinamikanya sendiri. Saat itu ada corak Khafif Sulus, Khafif Sulusain, Riyasi, dan Al-Aqlam as-Sittah. Tokoh terkemukanya adalah Al-Ahwal dan Ibnu Muqlah. The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World menyebut, Ibnu Muqlah yang menetapkan standar huruf.

Pada masa-masa selanjutnya, kaligrafi juga mengalami banyak perubahan. Tak hanya dalam bentuknya yang tradisional, tetapi juga modern. Banyak pula pegiat dan pencinta kaligrafi bermunculan. International Research Center for Islamic Culture and Art (IRCICA) di Istanbul, Turki hampir setiap tahun menggelar kompetesi kaligrafi tradisional.

Sumber: REPUBLIKA(Red: Agung Sasongko)

Address

Pekalongan
51171

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when KALIGRAFI Timbul posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share