03/06/2026
🔥Lahirnya Yakuza Maneges, Membuat Banyak yang Selama Ini Berlindung di Balik Jubah Mulai Gelisah?
KEDIRI – Kehadiran organisasi sosial dan spiritual Yakuza Maneges yang dipimpin Den Gus Thuba Topo Broto Maneges mulai mengguncang kenyamanan banyak pihak. Bukan hanya pejabat bermasalah, tapi juga oknum-oknum yang selama ini merasa aman bersembunyi di balik simbol agama, gelar, dan fanatisme pengikut.
Di saat sebagian orang sibuk mengaku “paling NU”, paling cinta ulama, paling menjaga marwah agama, publik justru melihat fenomena yang ironis: keras kepada rakyat biasa, tapi mendadak diam ketika kemungkaran dilakukan oleh tokoh yang mereka kultuskan sendiri.
Kalau pelakunya orang biasa, ceramah moral langsung berhamburan. Teriak haram, sesat, ahli maksiat, bahkan sibuk menjadi polisi agama. Tapi ketika kasus menyeret oknum pejabat, tokoh agama, habib, gus, kyai, atau orang yang punya nama besar, mendadak semuanya berubah jadi bisu dan tuli.
Korban diminta diam demi nama baik. Kritik disebut fitnah. Fakta dipelintir. Dan hukum seolah harus menunduk di hadapan sorban, jabatan, pop**aritas, dan pengaruh sosial.
Karena itulah lahirnya Yakuza Maneges dianggap membawa keresahan bagi mereka yang selama ini nyaman hidup di tengah budaya pembiaran.
Organisasi yang berpusat di Kediri itu hadir dengan semangat mengawal persoalan sosial, mendukung penegakan hukum, serta melawan berbagai bentuk penyimpangan tanpa pandang bulu. Di tengah maraknya dugaan korupsi, penyalahgunaan jabatan, hingga kasus asusila yang menyeret oknum dari berbagai kalangan, Yakuza Maneges muncul sebagai simbol perlawanan terhadap budaya takut membongkar kebenaran.
Visi mereka sederhana namun menampar banyak pihak:
“Penjaga yang lemah, pembela yang benar, dan pembenah yang salah.”
Kalimat yang terdengar sederhana itu justru menjadi ancaman bagi mereka yang selama ini merasa kebal karena punya pengaruh, jabatan, massa fanatik, atau simbol agama.
Den Gus Thuba atau DGT menegaskan bahwa Yakuza Maneges tidak lahir untuk mencari musuh, melainkan untuk berdiri di pihak kebenaran dan mengawal proses hukum berjalan adil dan transparan.
“Kami akan memantau dan menindak tanpa pandang bulu kasus di tengah masyarakat, pejabat, bahkan ulama yang melenceng sekalipun, khususnya dalam hal asusila,” tegas DGT.
Pernyataan itu mendapat perhatian luas karena disampaikan di tengah meningkatnya tuntutan publik terhadap penegakan hukum yang benar-benar adil. Masyarakat mulai muak melihat adanya standar ganda: tajam ke bawah, tumpul ke atas. Tajam kepada rakyat kecil, tapi melempem kepada tokoh besar yang dikultuskan.
Lebih miris lagi, sebagian orang yang paling keras mengaku menjaga kehormatan ulama justru sering menjadi tameng pertama bagi oknum perusak. Seolah-olah membela tokoh lebih penting daripada membela korban. Seolah simbol agama lebih suci daripada keadilan itu sendiri.
Padahal membersihkan oknum perusak justru bentuk cinta terhadap agama dan ulama. Karena agama tidak pernah mengajarkan untuk melindungi kebusukan hanya demi menjaga citra kelompok.
Sebagai cucu ulama kharismatik KH. Hamim Djazuli, Den Gus Thuba dikenal memiliki pendekatan dakwah yang merangkul berbagai kalangan, terutama kaum marginal. Namun dalam persoalan kejahatan yang merugikan masyarakat, khususnya yang menyangkut anak-anak, perempuan, dan kelompok rentan, sikapnya dikenal sangat tegas.
Banyak pihak menilai, jika Yakuza Maneges mampu konsisten mengawal isu keadilan sosial, perlindungan korban, dan keberanian masyarakat untuk melapor, organisasi ini berpotensi menjadi kekuatan moral yang berpengaruh di tengah masyarakat.
Karena pada akhirnya, jabatan, gelar, kekuasaan, pop**aritas, maupun simbol agama tidak boleh menjadi tameng untuk menghindari pertanggungjawaban hukum.
Dan kebenaran tidak boleh kalah hanya karena pelakunya dianggap tokoh suci.