Budi Kuang Superteam

Budi Kuang Superteam Support by Winners International Network the Biggest Support System at SouthEast Asia. Budi Kuang SUPERTEAM declared by ID Budi Kuang
Founders 4Life Indo

Tujuannya harus jelas antara keinginan untuk TERLIHAT KAYA dan MENJADI KAYA ( sesungguhnya ).Kebijaksanaan Financial san...
14/11/2019

Tujuannya harus jelas antara keinginan untuk TERLIHAT KAYA dan MENJADI KAYA ( sesungguhnya ).

Kebijaksanaan Financial sangat diperlukan di saat Anda mendapatkan Rahasia Keuangan , sebuah Rahasia Dikejar Uang pun musti menyesuaikan seberapa besar passive income yang Anda miliki.

Pengeluaran / Liabilitas tetap musti disesuaikan dengan bijaksana antara KEINGINAN ( WANTs ) dan KEBUTUHAN ( NEEDs )

Bijaklah menggunakan REJEKI yang diberikan Tuhan untuk kita semuanya.

Gambar di atas ilustrasi yang sangat bagus di saat REJEKI datang apabila kita tidak cermat dan bijak mengelola keuangan dalam hidup Anda maka semuanya akan habis dan menguap menjadi sedia kala....
seberapapun banyak uang itu datang , akan tetap habis tidak tersisa tanpa memahami Kebijaksanaan Financial.

https://youtu.be/DNdnNwwzyf4Terkadang keberhasilan dan kesuksesan dalam hidup adalah bukan seberapa besar Income / Mater...
14/06/2019

https://youtu.be/DNdnNwwzyf4

Terkadang keberhasilan dan kesuksesan dalam hidup adalah bukan seberapa besar Income / Materi yang bisa mereka dapatkan namun lebih pada seberapa besar Personal Development atau Karakter yang bisa mereka dapatkan.

Banyak orangtua jaman sekarang mengajarkan pada anaknya hanya mengenai kekayaan materi , bersaing dengan orangtua lainnya dan tanpa sadar telah memberi contoh ( mengajarkan / duplikasi ) kepada anak2 nya.

Tidak salah berusaha memberikan yang terbaik , namun yang terbaik itu bukanlah materi =
Jam mahal , Sepatu Mahal , Tas Mahal , Baju Mahal , Kacamata Mahal , Kosmetik Mahal , Liburan Mahal , Mobil Mahal , Rumah Mewah , etc.

Seakan akan bahwa nilai keberhasilan seseorang hanya terletak pada hal-hal tersebut.

Lihatlah berapa banyak bahkan dengan kemajuan teknologi dan perkembangan medsos , ajang pamer dan adu materi terjadi begitu nyata dan bahkan tanpa disadari oleh banyak orangtua mungkin termasuk kita sendiri.

Pembully an di sekolah hanya karena materi pun terjadi :
Sepatu mu merk apa , asli atau kw super?
Tas kamu smiggle gak?
Jam kamu china atau asli?
Liburan kamu dekat atau jauh ( mahal )?
Kamu dianter nya naik mobil apa? Avanza / Alphard?

Tanpa sadar pembully an adalah akibat kebanyakan dari kita mendidik Anak kita dengan memaksakan diri , memberikan bukan yang terbaik namun hanya supaya dipandang oleh yang lain.

Sifat ini akan ditiru oleh anak kita tanpa kita sadari.

Belajarlah bijak bahwa tidak salah memberi merk namun jangan mendidik anak kita atau bahkan mendidik kita sendiri bahwa kunci atau indikasi kesuksesan itu pada merk dan brand atau mahal tidaknya benda tsb.

Kesuksesan seseorang adalah apabila Anda mempunyai personal development yang bagus dan bisa mendidik Anak / Leader / Mitra Anda dengan personal development yang bagus :
1. Minum Air Ingat Sumbernya
2. Menghormati yang Tua dan Membimbing yang Muda
3. Kebahagiaan yang Terbesar adalah ketika Membantu Orang Lain
4. Jadikanlah yang Baik sebagai Teladan dan Jadikan yang Tidak Baik sebagai Pembelajaran.
etc

Walau film di atas adalah bersifat iklan komersial dari asuransi namun kita belajar bahwa pemberian terbaik orang tua kepada anaknya adalah masa pensiun yang baik dan tidak merepotkan anak2nya.

Dalam bisnis Network Marketing tujuan sesungguhnya dari Passive Income dan Residual Income dari MEMBANGUN ASET adalah KEKAYAAN yang SESUNGGUHNYA.

Dimana di saat kita sudah tidak secara aktif / tidak bisa bekerja lagi namun pendapatan itu terus datang dan mengalir.

Inilah pensiun yang sesungguhnya dimana pendapatan akan selalu datang setiap bulan dan selama2nya ( bukan hanya sekali datang besar / jadi seperti warisan yang kalau anak keturunan kita tidak bijak mengelola financial nya maka akan segera habis ).

Warisan / Uang Asuransi yang sekali datang besar itu bukan masuk kategori passive income tapi lebih pada CAPITAL GAIN.

Ayo wariskan pola pikir yang baik , personal development ( karakter yang baik ) dan melek finansial ( kebijaksanaan financial ) sebagai warisan kita.

Terkadang keberhasilan dan kesuksesan dalam hidup adalah bukan seberapa besar Income / Materi yang bisa mereka dapatkan namun lebih pada seberapa besar Perso...

My ten years challengeCara lama vs Cara BaruOld vs New2009 lawan 2019Kuno vs Kekinian       #2009-2019
20/01/2019

My ten years challenge
Cara lama vs Cara Baru
Old vs New
2009 lawan 2019
Kuno vs Kekinian

#2009-2019

FALSAFAH RONGGO WARSITO(Dalam bahasa asli dan terjemahannya)Rejeki iku ora iså ditiru(REJEKI ITU TIDAK BISA DITIRU)Senaj...
23/11/2018

FALSAFAH RONGGO WARSITO
(Dalam bahasa asli dan terjemahannya)

Rejeki iku ora iså ditiru
(REJEKI ITU TIDAK BISA DITIRU)

Senajan pådå lakumu
(WALAU JALANMU SAMA)

Senajan pådå dodolan mu
(WALAU JUALANMU SAMA)

Senajan pådå nyambut gawemu
(WALAU PEKERJAANMU SAMA)

Kasil sing ditåmpå bakal bedå2
(HASIL YANG DITERIMA AKAN BERBEDA SATU SAMA LAIN)

Iså bedå nèng akèhé båndhå
(BISA BEDA DALAM BANYAKNYA HARTA)

Iså ugå ånå nèng Råså lan Ayemé ati, yaiku sing jenengé bahagia
(BISA JUGA ADA DI DALAM RASA BAHAGIA DAN KETENTERAMAN HATI)

Kabèh iku såkå tresnané Gusti kang måhå kuwåså
(SEMUA ITU ATAS KASIH DARI TUHAN YANG MAHA KUASA)

Såpå temen bakal tinemu
(BARANG SIAPA BER-SUNGGUH2 AKAN MENEMUKAN)

Såpå wani rekåså bakal nggayuh mulyå
(BARANG SIAPA BERANI BERSUSAH PAYAH AKAN MENEMUKAN KEMULIAAN)

Dudu akèhé, nanging berkahé kang dadèkaké cukup lan nyukupi
(BUKAN BANYAKNYA, MELAINKAN BERKAHNYA YANG MENJADIKAN CUKUP DAN MENCUKUPI)

Wis ginaris nèng takdiré menungså yèn åpå sing urip kuwi wis disangoni såkå sing kuwåså
(SUDAH DIGARISKAN OLEH TAKDIR BAHWA SEMUA YANG HIDUP ITU SUDAH DIBERI BEKAL OLEH YANG MAHA KUASA)

Dalan urip lan pangané wis cemepak cedhak kåyå angin sing disedhot bendinané
(JALAN HIDUP DAN REJEKI SUDAH TERSEDIA, DEKAT, SEPERTI UDARA YANG KITA HIRUP SETIAP HARINYA)

Nanging kadhang menungså sulap måtå lan peteng atiné, sing adoh såkå awaké katon padhang cemlorot ngawé-awé, nanging sing cedhak nèng ngarepé lan dadi tanggung jawabé disiå-siå kåyå orå duwé gunå
(TETAPI KADANG MANUSIA SILAU MATA DAN GELAP HATI, YANG JAUH KELIHATAN BERKILAU DAN MENARIK HATI.. TETAPI YANG DEKAT DIDEPANNYA DAN MENJADI TANGGUNG JAWABNYA DISIA-SIAKAN SEPERTI TAK ADA GUNA)

Rejeki iku wis cemepak såkå Gusti, ora bakal kurang anané kanggo nyukupi butuhé menungså såkå lair tekané pati
(REJEKI ITU SUDAH DISEDIAKAN OLEH TUHAN, TIDAK BAKAL BERKURANG UNTUK MENCUKUPI KEBUTUHAN MANUSIA DARI LAHIR SAMPAI MATI)

Nanging yèn kanggo nuruti karep menungså sing ora ånå watesé, rasané kabèh cupet, nèng pikiran ruwet, lan atiné marahi bundhet
(TETAPI KALAU MENURUTI KEMAUAN MANUSIA YANG TIDAK ADA BATASNYA, SEMUA DIRASA KURANG MEMBUAT RUWET DI HATI DAN PIKIRAN)

Welingé wong tuwå, åpå sing ånå dilakoni lan åpå sing durung ånå åjå diarep-arep, semèlèhké lan yèn wis dadi duwèkmu bakal tinemu, yèn ora jatahmu, åpå maneh kok ngrebut såkå wong liyå nganggo cårå sing ålå, yå waé, iku bakal gawé uripmu lårå, rekåså lan angkårå murkå sak jeroning kaluwargå, kabeh iku bakal sirnå balik dadi sakmestiné
(PETUAH ORANG TUA, JALANILAH APA YANG ADA DIDEPAN MATA DAN JANGAN TERLALU BERHARAP LEBIH UNTUK YANG BELUM ADA. KALAU MEMANG MILIKMU PASTI AKAN KETEMU, KALAU BUKAN JATAHMU, APALAGI SAMPAI MEREBUT MILIK ORANG MEMAKAI CÀRA TIDAK BAIK, ITU AKAN MEMBUAT HIDUPMU MERANA, SENGSARA DAN ANGKARA MURKA. SEMUA ITU AKAN SIRNA KEMBALI KE ASALNYA)

Yèn umpåmå ayem iku mung biså dituku karo akèhé båndhå dahnå rekasané dadi wong sing ora duwé
(KALAU SAJA KETENTERAMAN ITU BISA DIBELI DENGAN HÀRTA, ALANGKAH SENGSARANYA ORANG YANG TIDAK PUNYÀ)

Untungé ayem isà diduwèni såpå waé sing gelem ngleremké atiné ing bab kadonyan, seneng tetulung marang liyan, lan pasrahké uripé marang GUSTI KANG MURBENG DUMADI RAHAYU
(UNTUNGNYA, KETENTERAMAN BISA DIMILIKI OLEH SIAPA SAJA YANG TIDAK MENGAGUNGKAN KEDUNIAWIAN, S**A MENOLONG ORANG LAIN DAN MENSYUKURI HIDUPNYA)





Silahkan (Monggo)
Di Share Berbagi Kebaikan

06/09/2018

NO EXCUSE NO LIMITs

Respect to Manami Ito.
Seorang suster dengan 1 lengan tangan , juga seorang atlet renang paralympic. Kekuatan tekad dan kobaran semangat nya yang pantang menyerah menginspirasi banyak orang.

Kita lihat bagaimana lantunan nada yang begitu merdu bisa dibawakan dalam ketidaksempurnaan menciptakan keindahan yang sempurna.

Setiap manusia dalam kehidupannya terkadang mengalami hal - hal yang tidak terduga diluar kemauannya.

Namun manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling tinggi diberikan akal budi dan kuasa PILIH.

MEMILIH untuk MENYERAH atau BERJUANG.
MEMILIH untuk MENGELUH atau BERSYUKUR.

NO EXCUSE.
Tanpa bikin alasan.
NO LIMITs.
Tiada batasan.

Kalau hidup Anda selalu memilih untuk tidak mengeluh dan membuat alasan , tidak perlu untuk menyalahkan siapapun. Menerima setiap kondisi apa adanya , menerima setiap permasalahan dengan lapang dada dan hembuskan napas panjang sejenak.

ADAPTASI dan ATASI.

Maka kami yakin HIDUP ANDA tidak akan ada BATASAN - BATASAN nya.
Tidak ada yang tidak bisa Anda capai dalam hidup ini , tidak ada yang tidak mungkin , karena bagi orang - orang yang berjiwa kuat dan tangguh akan selalu ada JALAN , SELALU ADA CARA dan SELALU ADA KEMUNGKINAN.

Terinspirasilah dari lantunan biola Manami Ito.
Hidup musti maju menyongsong masa Depan , jangan kalah dengan masa lalu Anda , saat Anda kecil sudah berapa kali jatuh bangun untuk berusaha berjalan.

Terima dan hadapi setiap masalah Anda.
BERSYUKUR dengan apapun itu.
TERUSLAH MEMPUNYAI HARAPAN.
FOKUS MENUJU MASA DEPAN.

HIDUP ANDA dan KITA SEMUA PASTI INDAH.

Mungkin belum banyak yang tahu bahwa Wewey Wita, peraih medali emas ke-30 bagi kontingen Indonesia pada Asian Games 2018...
01/09/2018

Mungkin belum banyak yang tahu bahwa Wewey Wita, peraih medali emas ke-30 bagi kontingen Indonesia pada Asian Games 2018, adalah pesilat putri keturunan Tionghoa dari keluarga yang kurang mampu.

Berikut kisah yang ditulisnya sendiri tentang bagaimana Wewey sampai 'tersesat' ke olahraga pencak silat dan kisah kepahitan hidup keluarganya.
____________________________________

Pencak Silat Memeluk Semua yang Mencintainya

oleh : Wewey Wita

Segala hal tentang hidupku serupa paradoks.

Aku seorang perempuan. Aku berdarah Tionghoa dan papaku warga negara Singapura. Aku bertarung untuk Indonesia.

Ada sebuah streotipe di negara ini bahwa orang-orang Tionghoa pasti mapan dan berada. Tentu saja itu omong kosong. Percayalah, jika situasi ekonomi setiap keluarga ibarat garis start bagi anak-anak yang terlahir darinya, aku mulai jauh, jauh, dari belakang.

Pada mulanya keluarga kami berkecukupan. Namun, suatu ketika Papa, yang berbisnis kayu, ditipu rekannya sendiri. Hidup seketika jadi bak abu di atas tanggul. Segalanya goyah, lalu ambruk. Bank menyita rumah, mobil, dan harta lainnya. Hidup di kota semakin menekan. Kemiskinan mendesak kami ke tepi.

Papa memboyong seluruh keluarganya ke kampung halaman Mama di Ciamis. Tinggal di kota kecil tak serta merta membuat hidup kami membaik. Papa enggan menumpang di rumah nenek karena ia enggan jadi beban. Ia ingin mandiri walau sulit.

Kami tinggal di rumah kontrakan yang sempit. Papa dan Mama mencoba bangkit berkali-kali, mulai dari berjualan bakso hingga barang-barang kelontong. Kami berdiri, jatuh, berdiri lagi, jatuh lagi.

Utang membengkak. Kami bahkan tak sanggup menanggung biaya keperluan sehari-hari seperti beras, minyak, gula dan lain-lain. Suatu kali listrik rumah kami diputus karena pembayaran terlalu lama ditunggak. Bermalam-malam gelap gulita. Untuk mengecas ponsel Papa, satu-satunya alat komunikasi kami, aku terpaksa menumpang di rumah tetangga.

“Memang listrik punya nenek moyang lu?”

Bentakan itu akan selalu tergiang dalam kepalaku.

Papa bernama asli Yeo Meng Tong. Ketika ia masih berduit, orang-orang memanggilnya Mr. Tong dengan lagak manis. Begitu kami kere, orang enteng saja menyapanya Atong. Terkadang malah Otong. Itu membuatku jengkel. Kau tahulah, itu nama yang sering diberikan laki-laki buat alat kelaminnya sendiri.

Bagaimana pun, aku selalu merasa beruntung memiliki Papa yang tangguh dan penyabar. Dia tak pernah menyuruh istri atau anak-anaknya bekerja buat meringankan bebannya. Bahkan hal-hal sepele seperti menyapu, mengepel, atau mencuci piring, sering ia lakukan sendiri.

Aku pernah memergokinya berkata, dengan mesra, kepada Mama: “Biar Papa saja.” Papa adalah pemimpin keluarga kami, dan ia mengerti bahwa pemimpin sejatinya ialah pelayan.

Papa tak banyak bicara. Dia selalu memberi contoh dengan tindakan. Sifat konsekuen papa mulai kutiru sejak aku kecil. Sedari dulu aku sudah menyadari aku harus punya andil dalam keluarga ini.

Sejak kecil aku terbiasa bergaul dengan laki-laki. Aku jago bermain kartu dan gundu. Jika menang, gundu dan kartu mereka yang kumenangkan bisa kujual kembali. Uangnya kuserahkan ke Mama.

Itu bukan satu-satunya trik yang kupunya buat mencari uang. Bukan, bukan beternak tuyul. Dulu, ada snack berharga Rp500 yang kadang berisi hadiah uang Rp.5,000. Di warung langgananku, satu demi satu bungkus snack itu kukocok, kutimbang, kudengarkan bunyinya. Kalau cocok, aku ambil. Jika tidak, dengan polosnya aku akan berlalu meninggalkan penjaga warung yang cemberut karena barang dagangannya aku acak-acak. Konyol, jelas. Naif, mungkin. Tapi kisah itu benar belaka.

Saat aku lahir, Papa menamaiku Yeo Chuwey. Dalam bahasa Indonesia, artinya cukup keren: nomor satu yang paling bersinar. Sayang, kegaduhan politik di Indonesia waktu itu membuat Papa berpikir nama Tionghoa hanya akan membuat hidupku makin sulit. Maka, di akta kelahiranku tertera nama utama yang “lebih Indonesia”: Wewey Wita.

Sampai di sini, setelah mengetahui latar belakang keluargaku, kau mungkin mengira aku seorang atlet badminton, wushu, kungfu, basket, bridge, atau olahraga-olahraga yang telanjur lekat dengan etnis Tionghoa. Salah, aku adalah seorang pesilat.

Pencak silat cenderung lebih dekat dengan identitas keindonesiaan yang dibatasi pada satu entitas yakni etnis Melayu. Berkulit coklat, bukan kuning. Tentu pencak silat sendiri tak melahirkan sekat-sekat itu. Pembatasan, kukira, hanya ada dalam kepala kita. Pencak silat, seperti Indonesia, memeluk siapa saja yang mencintainya, termasuk aku.

Aku sendiri tak menyangka silat bisa jadi bagian dari hidupku. Memang semasa kecil aku biasa bermain dengan anak lelaki dan ikut beragam ektrakurikuler olahraga, mulai dari voli dan basket hingga karate dan taekwondo. Mama selalu memaksaku menampakkan sisi feminin, sampai-sampai dia pernah memaksaku ikut lomba peragaan busana yang diadakan Radio Pitaloka, stasiun radio terkenal di Ciamis.

Aku terpilih sebagai juara 2. Tetapi aku tak peduli. Buatku, berlenggak-lenggok itu tak nyaman. Kurasa bakatku memang olahraga. Semua guru olahraga mengenalku. Dalam berbagai kejuaraan olahraga antar sekolah, namaku selalu muncul dan mereka banggakan. Lalu, terjadilah sesuatu yang mengubah hidupku.

Dalam sebuah pesta perpisahan kakak kelas, seorang guru mendatangiku. Dengan enteng dia bilang: “Wewey, Bapak udah daftarin kamu, ya. Uang pendaftaran sudah masuk. Dua hari lagi pertandingan.”
Tentu aku terbelalak. “Tanding apa, Pak?” kataku. “Silat.”

Aku bingung. Mau membantah takut durhaka. Tapi kalau harus mengembalikan uang pendaftaran, aku tak tahu harus mencari ke mana. Dengan terpaksa, aku menurut.

Hanya ada dua hari untuk belajar. Dan yang lebih ajaib, guru itu hanya mengajariku etiket masuk gelanggang, salam kepada wasit, dan hal-hal sepele lainnya. Sama sekali tak ada teknik pertarungan. Dan, oh, untuk kejuaraan pertamaku itu, meski masih kelas 4 SD, berat badanku melewati ambang batas yang ditentukan. Maka, aku diturunkan melawan anak-anak SMP.

Takut? Jelas. Musuhku adalah atlet-atlet pencak yang punya jam terbang, sedangkan aku cuma berlatih memberi salam selama dua hari. Aku menang dengan skor 3-2 dalam pertandingan pertamaku berkat teknik tendangan karate. Tendang, tendang, dan tendang. Aku gagal menjadi juara umum, namun saat juara terbaik diumumkan, namaku disebutkan di podium. Sejak saat itulah aku diminta guru-guru menggeluti pencak silat secara serius.

Popwilnas. Popda. Popnas. Satu demi satu kejuaraan berjenjang untuk pelajar itu kuikuti.

Seperti aku jelaskan di awal, hidupku penuh paradoks. Dan itu terjadi lagi di kejuaraan senior pertamaku, saat membela Kabupaten Ciamis di ajang Pekan Olahraga Daerah (Porda).

Dalam sebuah kompetisi, lazimnya kasus pencurian umur terjadi saat si atlet mengurangi umur jagar tak melebihi batasan. Aku malah sebaliknya. Waktu itu, atlet Porda harus berusia 17-35 tahun, sedangkan aku baru 14 tahun. "Kalau kamu siap, gampang, semuanya bisa diurus," kata pelatih kepadaku.

Saat itu, aku tak begitu paham dan peduli apakah yang kulakukan benar. Yang kuinginkan hanya ikut kejuaraan dan berprestasi. Lagi p**a, kita sama-sama tahu, sulap-menyulap bukan hal yang aneh di negara ini.

Aku memenangkan emas. Kabar soal pencurian umur yang kulakukan pun bocor dan jadi perbincangan. Namun, orang-orang sepertinya malah bangga sebab seorang atlet berusia dini mampu mengalahkan atlet-atlet yang lebih senior.

Emas Porda itu semestinya berarti bonus Rp10 juta untukku, tetapi yang kuterima hanya Rp7,5 juta—kukira aku tak perlu menjelaskan kepadamu bagaimana itu bisa terjadi. Aku tak mempermasalahkan hakku yang raib, lagi p**a Rp7,5 juta bagi seorang anak SMP sepertiku saat itu sudah teramat besar.

Dari titik itulah karierku sebagai atlet pencak silat melejit. Aku bergabung dengan PPLP di Bandung.

Selain Papa dan Mama, aku beruntung memiliki kakek dan nenek yang amat berjasa ketika aku meniti karier di Bandung. Meski sulit, mereka selalu memaksaku menerima uang pemberian mereka, yang aku tahu didapat dengan susah payah.

Saat di Bandung, aku kadang tak bisa makan dengan lahap. Apakah keluarga di Ciamis sudah makan atau belum? Aku merasa telah meninggalkan keluargaku dalam situasi sulit.

Namun, pilihan pelik merantau ke Bandung harus kuambil. Hanya dari sanalah aku bisa berharap membantu Mama, Papa, dan lima adikku menyambung hidup dengan uang saku dan bonus kemenanganku di pelbagai kejuaraan.

Jika boleh jujur, aku sebenarnya sudah letih. 15 tahun aku bertarung, bertarung, bertarung. Aku sadar bahwa menjadi atlet bukan jaminan pasti untuk masa depan—ibarat bunga, segar dipakai layu dibuang. Namun, di sisi lain, kerja belum selesai, belum apa-apa. Aku akan berhenti hanya jika sudah memberikan prestasi terbaik bagi bangsaku, negaraku: Indonesia.

29 Agustus 2018

27/08/2018

If you want to make everyone happy , don't be a Leader , sell ice cream.

Kalau Anda ingin menjadi seorang Leader maka tidak akan bisa membuat semua orang happy. Jadilah penjual Ice Cream saja.

Dalam sebuah bisnis dimana bisnisnya adalah bisnis manusia , banyak manusia di dalamnya , teamwork , synergy dan leadership itu tidak semulus dan selicin permukaan kaca.

Terkadang harus mengatakan apa adanya yang kadang mungkin membuat orang tidak berkenan , namun demi kebaikan dan kemajuan bersama.

Kata pujian dibutuhkan namun juga harus sesuai porsi dan tempatnya.

Maka ada seorang motivator mengatakan sama seperti yang dilakukan oleh Raja Wen dimana ingin mendengarkan pendapat dan kata2 sejujur2nya dari rakyatnya berupa komplain kan saja apa yang kurang atau tidak baik dari pemerintahannya.
Seorang motivator tsb mengatakan cara tercepat dan termudah untuk mengetahui kekurangan diri adalah cari HATERS Anda dan dengar apa yang dia ucapkan , namun TELAAH DULU ya......... jangan diterima mentah semua karena akan merusak mindset Anda.

Kenapa ini dikatakan cara tercepat dan termudah , sebetulnya coaching dan mentoring yang mahal2 dan profesional itu tujuannya cuma 1 yaitu mencari kelemahan Anda , membuat Anda menyadarinya dan merubahnya menjadi positif , dan meningkatkan apa yang sudah positif untuk makin bermanfaat.

Terkadang kata yang manis dan indah itu malah meracuni.
Terkadang kata yang pahit dan pedas itu malah menjadi obat.

LENA DAN LENI TAK PUTUS NYALI....Indramayu Pak Surtina dan Bu Toniah nyaris habis harapan. Kehidupannya sebagai buruh ta...
25/08/2018

LENA DAN LENI TAK PUTUS NYALI....

Indramayu

Pak Surtina dan Bu Toniah nyaris habis harapan. Kehidupannya sebagai buruh tani tak juga membuat kesejahteraan keluarganya membaik dari hari ke hari. Ia menggarap sawah tapi bukan miliknya, sawah panen bukan punyanya.

Kehidupan makin terasa sulit. Anak perempuan kembarnya, Lena dan Leni kelahiran 7 Juni 1989 masih belajar di sekolah dasar. Melanjutkan sekolah sudah tak ada harapan. Menjadi TKI atau buruh migran menjadi satu-satunya alasan Surtina dan Toniah, agar anak-anaknya itu nanti bisa hidup sedikit layak. Seperti tetangga kebanyakan lainnya, kerja di luar negeri, menjadi satu-satunya jalan keluar.

Lena dan Leni tetap ingin melanjutkan sekolah, diam-diam mereka mendaftar sendiri ke SMP di daerahnya. Bocah kembar itu sangat paham konsekuensinya, tiada biaya buatnya.

Bermulalah itu semua. Membantu tetangga menjadi buruh cuci, mencuci piring di kantin agar punya uang saku, setiap saat mereka lakoni. Keras hidup bagi anak-anak ini, tapi tak membuat mereka putus nyali. Agar bisa sekolah. Cuma itu tujuannya.

Setamat SMP, mereka lanjut SMA. Makin terjal saja jalannya. Makin sulit saja keadaannya. Kondisi ekonomi keluarga makin payah. Satu hari mereka melihat pengumuman, beasiswa bagi siswa yang berprestasi untuk sepak takraw. Mereka melihat hanya itu jalan keluar agar bisa terus sekolah, mereka ikut berlatih sepak takraw. Olahraga yang tak pernah mereka tahu. Ngotot keduanya berlatih itu agar bisa dapat beasiswa dan terus sekolah.

Niat keras Lena dan Leni berbuah hasil. Pertandingan antar sekolah dan daerah mulai mereka ikuti, dan juara p**a. Beasiswa sudah di tangan. Beasiswa itu hanya membebaskan dari biaya sekolah saja.

Untuk pemenuhan kebutuhan lainnya mereka harus putar otak lagi. Kebetulan tetangganya ada bos pemulung, banyak barang tak terpakai yang dibuang pinggir kali. Mengais-ngais yang bisa dipakai. Sepatu bekas yang sudah tak jelas bentuknya mereka dapatkan dari sana, untuk sekolah dan berlatih sepak takraw. Malu mereka benamkan, gengsi mereka tanggalkan. Tujuannya hanya itu, bisa bersekolah.

Dari keterpaksaan keadaan bermain sepak takraw, berubahlah semua karenanya. Di Indramayu, siapa tak kenal Lena dan Leni, si kembar atlet sepak takraw ini. Namanya makin kondang.

Berbagai kejuaraan mulai mereka ikuti sejak 2006. Setahun saja kemudian, keduanya masuk pelatnas. Prestasinya membanggakan beroleh medali emas King's Cup 2016 di Thailand, 3 emas PON mewakili Jawa Barat, perak di Sea Games, dua perunggu di Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan.

Bonus PON pada 2010, buat mendaftarkan keduanya orang tuanya berhaji. Sayang saat Surtina dan Toniah berangkat haji mereka tak bisa mengantarkan karena sedang berlaga di Asian Games di Korea.

Jakarta 2018

Surtina dan Toniah menonton televisi di kampung. Ia melihat kembar kesayangan mereka bertanding. Membawa nama Indonesia. Semua itu tak terbayangkan sebelumnya bagi dua orangtua sederhana ini. Sepeti mimpi saja. Dua anak perempuan kembar yang sulit hidup masa kanak-kanaknya itu, yang mereka lebih tahu dari siapapun, bagaimana bisa dielu-elukan di lapangan sepak takraw begitu meriahnya. Merah Putih pun berkibar-kibar dibelakangnya.

Surtina dan Toniah. Seakan tak percaya, itu dua buah hatinya. Matanya berkaca-kaca menatap layar kaca. Bangga dan haru tiada batasnya.

"Keberhasilan hanya untuk mereka yang mau bersusah payah, dan bernyali menghadapi kehidupan"

Oleh : Dian Andryanto

FOTO: kemenpora.go.id , instagram

Address

Semarang
50145

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Budi Kuang Superteam posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share