31/07/2017
"MENUNTUT ILMU ADALAH KEWAJIBAN"
Manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Dia diberikan akal dan mampu menerima bermacam-macam ilmu pengetahuan, kepandaian dan keinginan sehingga mampu melakukan banyak hal. Tidak ada hal yang tidak mungkin untuk bisa dilakukan selama ilmu pengetahuannya berguna dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Ilmu adalah anugrah dengan maksud yang baik, dengan ilmu kita bisa menguasai banyak hal, dalam bentuk materi, jabatan, status sosial atau yang lainnya. Dengan ilmu manusia bisa menciptakan dunia yang indah, modern dan sangat berarti. Tapi, dengan ilmu juga manusia bisa menjadikan dunia rusak, hancur dan tidak berarti, disaat itu ilmu hanya dijadikan senjata, bukan pelindung. Maka dari itu bijaklah dalam berilmu, bijaklah dalam mencari ilmu, dan niatkanlah ilmu untuk kebaikan.
Jika karena ilmu bisa membuat kerusakan maka untuk apa kita memiliki ilmu.
Kehidupan manusia tidak terlepas dengan masalah. Semakin hari, masalah kehidupan semakin rumit. Maka kita perlu menuntut ilmu, untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan baik, cepat dan tepat. Lalu apa jadinya jika manusia tidak memiliki ilmu,manusia akan bergerak dan berpikir dengan insting, dimana norma – norma kebenaran dan akhlak mulia akan terkikis olehnya.Manusia hanya akan mendahulukan kepentingan pribadi, dibandingkan kebenaran. Hal ini hanya akan menghadirkan kegelapan dalam hati dan pikiran. Sehingga mereka tidak pernah tahu mana yang benar dan mana yang salah. Maka kekacauanlah yang akan terjadi.
Pada kesempatan ini saya akan menjelaskan tentang pentingnya ilmu syar’i. sebuah ilmu yang saya yakini menjadi dasar ilmu yang lainnya. Penjelasan diatas bukanlah penjelasan yang asal-asalan. Dalam kehidupan seorang muslim, ilmu tidak terlepas dari pelajaran-pelajaran masa lalu. Sejarah memberikan banyak pelajaran yang sangat berarti. Banyak kisah-kisah yang bisa kita ambil dari sejarah. Zaman dahulu sebelum diutusnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, kehidupan umat manusia sangatlah jauh dari kebenaran. Kebenaran dan akhlak mulia terkikis oleh kerasnya kehidupan. Sebuah masa yang dikenal dengan masa jahiliah atau zaman kebodohan yang gelap gulita. Hingga diutusnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, menjadikan gelap gulita itu terang menderang.
Ilmu menjadi sebuah dasar perkataan dan perbuatan. Salah seorang Ulama terkemuka bernama Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Al-Ilmu Sebelum Berkata dan Beramal”.Sudah barang tentu di dalam perkataan beliau ini terkandung kaidah penting yang sangat bermanfaat dan perlu untuk kita ketahui bersama.
Asy-Syaikh Sholeh bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh berkata:
“Ilmu itu jika ditegakkan sebelum ucapan dan amal, maka akan diberkahi pelakunya biarpun perkaranya itu kecil. Adapun jika ucapan dan amal didahulukan sebelum ilmu dan bisa jadi perkaranya itu sebesar gunung, namun itu semua tidaklah di atas jalan keselamatan…Dan sungguh! Amalan yang sebesar dzarah (setitik) namun didasari ilmu, maka ini lebih besar nilainya daripada amalan laksana gunung tanpa ilmu. Dan Bahwasanya ilmu itu tujuan puncak yang terpenting dan harus diutamakan dari segala sesuatu. Khususnya ilmu yang dapat memperbaiki ibadah, meluruskan aqidah, memperbaiki hati, dan yang bisa menjadikan seseorang itu mudah dalam kehidupannya untuk meniti jalan di atas bukti nyata yang mencocoki Sunnah Rasul, bukan hidup di atas kebodohan.” (Syarh Kitab Tsalatsatul Ushul: 11-12)
Kesimpulannya adalah bahwa kita hendaknya “berilmu sebelum berkata dan beramal” karena ucapan dan perbuatan kita tidak akan berharga bila tanpa ilmu. Maka dari itu menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban.
Penulis : Budi Jejen IMWI
IMWI-Untuk Indonesia Yang Lebih Baik